Beijing (ANTARA) - Saham-saham China ditutup lebih rendah pada perdagangan Senin, karena data menunjukkan pertumbuhan di ekonomi terbesar kedua di dunia itu mencapai level terendah satu tahun, sementara analis tidak memperkirakan dukungan kebijakan moneter luas dalam waktu dekat.

Indikator utama Bursa Efek Shanghai, Indeks Komposit Shanghai merosot 0,12 persen atau 4,23 poin menjadi menetap di 3.568,14 poin, sedangkan indeks saham-saham unggulan CSI300 terpangkas 1,16 persen atau 57,33 poin menjadi berakhir di 4.874,78 poin.

Ekonomi China tumbuh 4,9 persen pada Juli-September dari tahun sebelumnya, laju terlemah sejak kuartal III 2020, dirugikan oleh kekurangan listrik, kemacetan pasokan dan wabah COVID-19 sporadis dan meningkatnya tekanan pada pembuat kebijakan di tengah meningkatnya kegelisahan atas sektor properti.

Meskipun pertumbuhan melambat, pembuat kebijakan mengisyaratkan bahwa mereka memiliki cara lain untuk mendukung pertumbuhan. Beberapa analis menurunkan ekspektasi mereka untuk dukungan kebijakan moneter yang lebih luas.

Baca juga: Saham Asia gelisah jelang data PDB China, minyak sentuh tertinggi baru

"PBoC (bank sentral China) dapat menggunakan instrumen seperti fasilitas pinjaman jangka menengah (MLF), operasi pasar terbuka (OMO) dan fasilitas hijau yang baru diperkenalkan untuk menjaga kondisi likuiditas cukup memadai di kuartal keempat," kata Nomura dalam sebuah catatan, mengutip dukungan likuiditas mungkin tidak dalam bentuk pemotongan RRR (rasio persyaratan pencadangan).

Saham sektor real estate turun lebih dari 2,5 persen karena tanda-tanda perlambatan di sektor ini dan bahkan ketika bank sentral mengatakan efek limpahan dari kesengsaraan utang China Evergrande Group dapat dikendalikan.

"Kami tidak melihat perubahan besar pada pembatasan properti Beijing dari penekan PBoC,” tulis Ting Lu, Kepala Ekonom China di Nomura.

Seorang mantan pakar pemerintah mengatakan China dapat memperluas pajak properti, setelah Presiden Xi Jinping pada Jumat (15/10/2021) menyerukan kemajuan dalam pajak yang dapat membantu mengurangi ketimpangan kekayaan.

Saham-saham kebutuhan pokok konsumen turun lebih dari 3,0 persen, dengan pembuat minuman keras anjlok 7,4 persen. Saham-saham energi dan batu bara masing-masing melonjak 4,7 persen dan 5,9 persen.

Batu bara kokas dan kokas berjangka China melonjak ke rekor tertinggi karena pasokan tetap ketat meskipun Beijing telah meningkatkan upaya untuk meningkatkan produksi.

Baca juga: Saham China ditutup lebih tinggi, investor lihat pelonggaran kebijakan