Akbar: Golkar Harus Berani Nyatakan Koalisi Tak Sejalan
17 Februari 2011 19:22 WIB
Salah satu kandidat Ketua Umum Partai Golkar 2009-2014, Aburizal Bakrie didampingi Akbar Tanjung memberi penjelasan setelah berbuka puasa dengan anak yatim dan bersilaturahmi di Hotel Sunan, Solo, Kamis (28/8). Aburizal yang di dukung penuh oleh Akbar Tandjung menyatakan akan membawa Golkar menjadi Partai yang solid guna menghadapi Pemilu 2014. FOTO ANTARA/Akbar Nugroho Gumay/09
Jakarta (ANTARA News) - Ketua Dewan Pembina DPP Golkar Akbar Tanjung mengatakan, Partai Golkar harus berani menyatakan tidak lagi bersama dalam koalisi bila persekutuan partai politik pendukung pemerintah tersebut tidak sesuai dengan kepentingan rakyat dan negara.
"Sikap Golkar adalah mendukung setiap kebijakan yang berdampak bagi kepentingan rakyat dan negara. Golkar harus punya keberanian untuk menyatakan tidak bisa bersama lagi. Tentu hal ini berdasarkan ukuran-ukuran yang efektif," katanya dalam perbincangan dengan wartawan di kantor AkbarTandjung Institute, Jakarta, Kamis.
Menurut dia, sikap ketegasan Golkar tersebut kemungkinan akan berdampak pada posisi menteri, namun hal itu wajar sebagai konsekuensi dari sikap politik yang tegas.
Ia juga menilai, Sekretariat Gabungan (Setgab) sebagai tempat berhimpun partai koalisi pendukung pemerintahan sudah tidak efektif dalam dinamika politik yang dinamis.
Ia juga menyarankan agar Presiden segera melakukan perombakan kabinet, karena dirasa sangat mendesak untuk mengoptimalkan kinerja pemerintahan yang dinilai belum efektif.
Menurut dia, Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian pembangunan telah membuat evaluasi yang bisa menjadi tolok ukur bagi Presiden dalam melakukan perombakan.
"Hanya saja, pertimbangannya harus pada kompetensi dan pengalaman calon menteri yang akan diangkat. Lebih baik lagi figur itu merepresentasikan partai," katanya.
Ia menambahkan, pemerintah harus lebih tegas sehingga tidak terganggu dengan partai politik. Pengalaman selama ini, menurut dia telah membuktikan, kabinet yang dibentuk hanya berdasarkan perwakilan partai koalisi tidak efektif. (M041/K004)
"Sikap Golkar adalah mendukung setiap kebijakan yang berdampak bagi kepentingan rakyat dan negara. Golkar harus punya keberanian untuk menyatakan tidak bisa bersama lagi. Tentu hal ini berdasarkan ukuran-ukuran yang efektif," katanya dalam perbincangan dengan wartawan di kantor AkbarTandjung Institute, Jakarta, Kamis.
Menurut dia, sikap ketegasan Golkar tersebut kemungkinan akan berdampak pada posisi menteri, namun hal itu wajar sebagai konsekuensi dari sikap politik yang tegas.
Ia juga menilai, Sekretariat Gabungan (Setgab) sebagai tempat berhimpun partai koalisi pendukung pemerintahan sudah tidak efektif dalam dinamika politik yang dinamis.
Ia juga menyarankan agar Presiden segera melakukan perombakan kabinet, karena dirasa sangat mendesak untuk mengoptimalkan kinerja pemerintahan yang dinilai belum efektif.
Menurut dia, Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan dan Pengendalian pembangunan telah membuat evaluasi yang bisa menjadi tolok ukur bagi Presiden dalam melakukan perombakan.
"Hanya saja, pertimbangannya harus pada kompetensi dan pengalaman calon menteri yang akan diangkat. Lebih baik lagi figur itu merepresentasikan partai," katanya.
Ia menambahkan, pemerintah harus lebih tegas sehingga tidak terganggu dengan partai politik. Pengalaman selama ini, menurut dia telah membuktikan, kabinet yang dibentuk hanya berdasarkan perwakilan partai koalisi tidak efektif. (M041/K004)
Editor: Kunto Wibisono
Copyright © ANTARA 2011
Tags: