Jakarta (ANTARA) - Kita semua harus waspada, dan selalu disiplin dengan protokol kesehatan (prokes). Hal ini sangat diperlukan karena dengan adanya kebijakan pelonggaran di banyak daerah, yang selama ini berbagai kegiatan dihentikan di mana yang melibatkan banyak orang.

Partisipasi dan kepedulian masyarakat sangat diperlukan, karena betapapun berkualitasnya sebuah kebijakan publik yang dibuat pemangku kepentingan, akhirnya bertujuan membangkitkan partisipasi.

Intinya, bagaimana menjaga angka penularan tetap rendah saat aktivitas masyarakat mulai meningkat. Masyarakat juga diharapkan yakin betul betapa pentingnya vaksin COVID-19, di mana paling tidak ada ada empat (4) manfaat vaksin COVID-19 yang perlu dipahami oleh khalayak luas.

Baca juga: Wakil Ketua MPR: Gelombang ketiga hanya bisa dihindari dengan disiplin

Manfaat vaksin COVID-19 penting untuk betul-betul dipahami untuk melawan keraguan. Program vaksinasi COVID-19 di Indonesia masih berlangsung hingga saat ini, sampai mencapai angka ideal.

Prespektif atau cara pandang bahwa betapa pentingnya vaksin di samping 5M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas) adalah upaya perlindungan yang bisa kita lakukan agar terhindar dari wabah COVID-19.

Gerakan 5M kalau dilaksanakan dengan disiplin, tidak ubahnya seperti “divaksin”. Ada empat manfaat Vaksin COVID-19 yang perlu dipahami.
Pertama, mencegah terkena atau mengalami gejala COVID-19 berat.

Perlu juga dijelaskan bahwa vaksinasi COVID-19 memang tidak membuat 100 persen kebal dari COVID-19. Tapi, vaksinasi COVID-19 akan mengurangi dampak yang ditimbulkan jika kita tertular Covid-19.

Vaksinasi adalah proses di dalam tubuh, di mana seseorang menjadi kebal atau terlindungi dari suatu penyakit, sehingga apabila suatu saat terpapar dengan penyakit tersebut, maka tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.

Baca juga: Ketua Umum IDI minta pemerintah perketat pintu masuk Indonesia

Kedua, melindungi orang lain, dengan vaksin bisa mencegah kita menyebarkan virus corona ke orang lain. Jika cakupan vaksinasi tinggi dan merata di suatu daerah, maka akan terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Dengan demikian, kelompok masyarakat yang rentan dan bukan merupakan sasaran vaksinasi, akan terlindungi. Kondisi tersebut hanya dapat tercapai dengan cakupan vaksinasi yang tinggi dan merata. Sebagian besar ahli percaya setidaknya butuh 70 persen dari populasi untuk divaksin demi mencapai kekebalan kelompok.

Ketiga, menghentikan penyebaran COVID-19. Pada dasarnya, vaksinasi diadakan bukan hanya bertujuan untuk memutus mata rantai penularan penyakit dan menghentikan wabah, tetapi juga dalam jangka panjang mengeliminasi atau bahkan memusnahkan penyakit itu sendiri. Tujuan vaksinasi ini kiranya juga disematkan untuk penyakit COVID-19 akibat virus corona.

Keempat, membantu melindungi generasi berikutnya. Ini penting karena mencegah virus corona menyebar dan bereplikasi, yang memungkinkannya bemutasi dan mungkin menjadi lebih kebal terhadap vaksin.


Waspada gelombang ketiga

Kebiasaan yang selama ini dijalankan seperti disiplin dengan Prokes dan 5M, perlu terus dirawat sehingga menjadi kebutuhan dan gaya hidup yang lebih sehat. Langkah ini sekaligus untuk selalu waspada terhadap kemungkinan potensi gelombang ketiga penularan COVID-19.

Kita harus sadar betul bahwa ada pengalaman dimana pada gelombang pertama trennya landai, dan sempat lengah ternyata muncul gelombang ke dua penularan COVID-19 yang justru lebih hebat dibanding dengan gelombang pertama.

Kita semua sudah diingatkan oleh Satuan Tugas Penanganan COVID-19, untuk mewaspadai potensi gelombang ketiga penularan virus corona di Indonesia.

Baca juga: Luhut minta semua pihak kompak disiplin hindari gelombang ketiga

Kepala Satgas Penanganan COVID-19, Ganip Warsito mengatakan, para ahli memprediksi ancaman gelombang ketiga COVID-19 di Tanah Air bisa saja terjadi pada akhir tahun.

Mengapa gelombang ketiga berpotensi pada akhir tahun ? Berdasarkan pengalaman empiris, pada Desember ada dua momen besar yang berpotensi memicu kenaikan kasus COVID-19, yakni Hari Natal dan Tahun Baru.

Sudah selayaknya, kita semua, khalayak ramai harus mewaspadai potensi lonjakan kasus COVID-19 di akhir tahun.

Hal ini sangat masuk akal, sebab pada momen akhir tahun, mobilitas masyarakat kemungkinan besar akan meningkat. Ada arus balik dan arus mudik.

Selain itu, pada Desember, terjadi pergantian cuaca sehingga bisa berpengaruh pada daya tahan tubuh sehingga mudah terserang penyakit. Variabel ini yang menjadi suatu ancaman peningkatan COVID-19.

Baca juga: Pakar ingatkan varian Delta picu gelombang ketiga pandemi di Kalsel

Kita optimis, dengan disiplin Prokes yang ketat, selalu menjalankan 5M dan divaksin, bahwa potensi gelombang ketiga itu bisa dicegah.

Dua hal yaitu disiplin prokes termasuk 5M dan vaksinasi merupakan kunci pencegahan dan mitigasi penularan virus Corona. Sangat ideal, ditambah dengan pola tracing, testing, dan treatment dalam penanganannya.

Di sinilah pada tahap ketiga pelaksanaan suatu kebijakan publik harus tersedia organisasi yang menerjemahkan sekaligus melaksanakan kebijakan publik itu sendiri. Dengan demikian, suatu kebijakan publik menjadi bermakna.

Jika upaya dan pola itu dilakukan, maka kita semua optimistis prediksi gelombang ketiga kasus COVID-19 di Indonesia pada Desember nanti tidak terjadi. Selanjutnya kita bisa hidup normal dan tetap gaya hidup sehat dilakukan.

*) Drs. Pudjo Rahayu Risan, M.Si adalah pengamat kebijakan publik, fungsionaris Asosiasi Ilmu Politik Indonesia, Semarang dan pengajar tidak tetap STIE Semarang dan STIE BPD Jateng.