Jakarta (ANTARA News) - Mesir terpecah? Nanti dulu, hanya karena bentrok massa pro-Mubarak versus demonstran anti-pemerintah di Lapangan Tahrir dua hari lalu, tak berarti rakyat Mesir pecah.

Sebagian besar kalangan di Arab dan bahkan media Barat menyebut bentrok itu tak lebih dari taktik kotor rezim Hosni Mubarak untuk mendeskreditkan demonstrasi yang mungkin menjadi awal perubahan radikal di seluruh dunia Arab itu.

Ada banyak laporan yang menyebutkan massa pro-Mubarak adalah polisi-polisi berpakaian preman dan bandit-bandit yang direkrut partai penguasa di Mesir.

Mingguan terkemuka Jerman, Der Spiegel, menyebut provokasi massa pro-Mubarak adalah upaya Mubarak mendeskreditkan aksi damai jutaan orang anti-Mubarak. Tapi itu disebut akan mempersulit massa anti-Mubarak.

"Para pemimpin demonstran kini mengkhawatirkan demonstrasi mendatang bakal berakhir dengan banjir darah dan ini dapat mendeskreditkan gerakan protes," ulas Der Spigel.

Betulkah demikian? Tampaknya tidak.

Dari laporan media seperti BBC, Guardian dan Aljazeera, provokasi itu malah membuat demonstran semakin militan bertahan di Lapangan Tahrir yang senantiasa menjadi pusat gravitasi gerakan sosial di Mesir itu.

"Mubarak mesti tahu bahwa kami tak akan pernah meninggalkan tempat ini," kata Ahmed Zaid, seorang prodemokrasi kepada BBC.

Media-media asing merekam jelas bahwa aksi massa pro-Mubarak itu dirancang untuk memprovokasi gerakan pro-demokrasi agar anarkis dan banyak dari mereka merupakan polisi berpakaian preman atau bandit yang direkrut rezim.

"Orang-orang ini berusaha menjagal kami malam itu. Kawan saya tumbang ditembak penembak jitu di depan saya dini hari itu dengan otak terburai," kata Mahmoud Mustafa.

Kepada Peter Beaumont dan Jack Shenker dari Guardian, pemuda berusia 25 tahun ini melanjutkan, "Lihat sekeliling Anda, kami tetap damai, tetap bersatu dan tetap menginginkan rezim ini jatuh."

Baik pemerintah Mesir maupun kementerian dalam negeri membantah telah merancang aksi tersebut. Tapi media membuktikan omongan pemerintah itu tak sesuai fakta.

Pagi-pagi sekali Rabu lalu, massa anti-Mubarak menggelandang seorang pendukung Mubarak. Dari saku bajunya ditemukan kartu identitas yang menunjukkan dia adalah polisi bernama Ahmed Mahmoud Abdul Razik.

Orang-orang seperti Abdul Razik banyak, tapi mereka beruntung karena massa anti-Mubarak menahan rekan-rekannya untuk tidak main hakim sendiri.

Sisi utara Lapangan Tahrir adalah saksi kebrutalan bentrok dua hari lalu. Di situ, posko kesehatan yang ditukangi 70 dokter relawan didirikan. Salah satu relawan itu adalah ahli bedah dr Ibrahim Fakhr.

"Kami ditembaki jam 11 malam dan kembali lagi ditembaki sekitar jam 4 subuh dari penembak jitu di atap gedung Museum Mesir. Kami melihat sinar laser dari senjata si penembak gelap," Fakhr.

Sementara Mohamed Saleh, akuntan berusia 25 tahun, meminta media massa mengabarkan pada dunia soal terorisme yang dilakukan Mubarak.

"Kami ada di sini selama delapan hari tanpa rusuh, tanpa bakar-bakaran, tanpa kekerasan. Kami hanya ingin revolusi damai. Jika Barat peduli terorisme, mereka jangan diam saja," kata Mohamed Saleh.

Usai bentrok, para demonstran anti-pemerintah membuat barikade-barikade, sementara para pemuda menjaga setiap pintu masuk agar tak disusupi provokator.

"Banyak sekali polisi di luar lapangan sana. Mereka berpakaian preman, membawa pisau dan senjata. Mereka mencoba masuk ke sini. Ada juga orang yang dibayar partainya Mubarak," sambung Saleh.

Said el-Zoughly, seorang guru pertanian ditugaskan untuk membangun barikade untuk menghadapi kemungkinan diserang massa pro-Mubarak. Dia juga menjadi salah seorang yang tiba-tiba mendapat tugas membuat "senjata" dadakan dari potongan batu bata.

Kekuatan ketiga

David Africa, analis keamanan independen asal Afrika Selatan, mengatakan provokasi kekuatan ketiga --bukan polisi dan aparat keamanan resmi-- lazim dilakukan rezim-rezim yang sedang tertekan rakyat.

Metode ini sering dipakai rezim-rezim otokratik manakala tengah dalam kondisi terdesak secara politik.

"Fokusnya adalah mempertahankan kekuasaan selama mungkin dan saat bersamaan menguras energi material dan politis lawan," kata Africa seperti dikutip Aljazeera.

Dia melanjutkan, sampai tentara intervensi mendukung massa pro-demokrasi, kekuatan ketiga akan terus menyerang, tak hanya Kairo dan kota-kota lain, tapi juga seluruh Mesir.

"Tak ada satu pun rezim otokratis yang mau melihat kejatuhannya sendiri. Untuk itulah Mubarak bertahan mati-matian," kata David.

David mengajak rakyat Mesir belajar dari rakyat Afrika Selatan, yaitu terus bersatu menyuarakan protes karena persatuan adalah unsur sentral ketika menghentikan upaya rezim apartheid di Afrika Selatan dahulu untuk terus berkuasa.

"Jika rakyat Mesir terus berdemonstrasi seperti yang telah mereka lakukan selama dua pekan terakhir, setiap klaim legitimasi dari penguasa menjadi sangat konyol," katanya.

Dan jika nanti terbentuk pemerintahan transisi, maka proses transisi harus terbebas dari unsur Mubarak. Jika tidak, transisi itu akan terus diancam kekuatan ketiga dan pemilu pun tak akan pernah bisa diselenggarakan, demikian David Africa.

Dari perspektif inilah, demonstran pro-demokrasi harus berunjukrasa dan tetap menyeru Mubarak turun. Skenario ini persis dipakai banyak gerakan people power seperti di Indonesia pada 1998.

Mubarak bisa saja mengambil langkah elegan seperti Soeharto, yaitu mundur dari kekuasaan. Toh tentara diam-diam tak loyal lagi kepadanya, setidaknya elemen mudanya.

Mubarak mungkin terpaksa bertahan karena ada faktor Israel dan dunia Arab, tidak hanya Teluk, tapi juga semua rezim otokratis di kawasan ini yang tak menginginkan kejatuhan Mubarak menginspirasi gerakan serupa di negeri mereka.

Karena itu, gerakan rakyat di Mesir mungkin akan berakhir dengan kemasygulan seperti yang sudah-sudah. Tapi mungkin juga berakhir lain, apalagi setelah Tunisia memberikan satu contoh sukses gerakan sosial.

Orang-orang Mesir sendiri kembali ke Lapangan Tahrir, beberapa diantaranya mengantarkan pasokan makanan kepada mereka yang bertahan.

"Kami akan bertahan selama mungkin. Tuhan bersama kami," kata Said el-Zoughly.

Berdasarkan sejumlah laporan media asing, skala demonstrasi memang terus meningkat, termasuk di kota terbesar kedua Mesir, Iskandariyah. Orang-orang baru bergabung dalam aksi ini.

"Saya tak pernah terlibat politik sebelum ini, namun kini saya di sini sampai Mubarak pergi atau saya mati," kata seorang pemuda bernama Mustafa.

Kepada Guardian, seorang perempuan demonstran menyatakan akan terus berdemonstrasi kendati harus menghadapi provokasi kelompok pro-pemerintah.

"Ini revolusi. Saya akan ambil bagian dalam revolusi ini. Saya tahu setiap revolusi ada risikonya dan kami siap menghadapi risiko itu," katanya.

Mereka juga siap mati.

"Ingat namaku kawan. Jika saya mati di sini, Anda mesti kabarkan kisah kami ke seluruh dunia," kata Hossam Eid al-Sharqawy kepada wartawan Aljazeera, Kamis. (*)