Jakarta (ANTARA) - Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Makropudensial Bank Indonesia (BI) Juda Agung menyampaikan estimasi potensi kebutuhan kredit UMKM mencapai Rp1.605 triliun.

"Dengan demikian, kalau semuanya bisa dipenuhi total rasio UMKM bisa mencapai 45 persen, jadi potensi permintaannya cukup besar," kata Juda dalam taklimat media secara daring di Jakarta, Jumat.
Adapun saat ini rasio kredit UMKM terhadap total kredit mencapai 20,51 persen atau senilai Rp1.135 triliun.

Hasil survei BI mencatat sebanyak 69,5 persen UMKM belum menerima kredit, sehingga baru 30,5 persen UMKM yang sudah menerima kredit.


Juda mengungkapkan, dari 69,5 persen UMKM tersebut, terdapat 43,1 persen yang membutuhkan kredit sementara 26,4 persen tidak membutuhkan kredit.
"Dari 43,1 persen itu potensinya mencapai Rp1.605 triliun," jelasnya.

Ia memerinci, estimasi potensi tersebut meliputi kredit untuk usaha menengah sebesar Rp740 triliun (46 persen), usaha kecil senilai Rp534 triliun (33 persen), dan usaha mikro sebanyak Rp331 triliun (21 persen).

Maka dari itu, seluruh pemangku kebijakan terus bersama-sama mendorong UMKM agar rasio kredit sektor tersebut bisa meningkat hingga mencapai target Presiden Joko Widodo yakni 30 persen pada 2024.

Baca juga: BI: Perbankan wajib penuhi RPIM UMKM sebesar 20 persen pada Juni 2022

Baca juga: BI: Ekonomi harus berdaya tahan untuk bisa hidup bersama pandemi