Banjarmasin (ANTARA) - Anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Percepatan Penanganan COVID-19 Hidayatullah Muttaqin SE, MSI, Pg.D mengatakan testing COVID-19 saat ini masih sangat tergantung pada inisiatif warga melakukan pemeriksaan.

"Akibatnya penularan pada kelompok masyarakat yang enggan memeriksakan diri tidak terdata dan tidak terjamah pengobatan fasilitas pelayanan kesehatan," kata dia di Banjarmasin, Rabu.

Menurut Taqin, ada beberapa daerah terjadi penurunan semu yaitu kasus konfirmasi dan pasien yang dirawat di rumah sakit mengalami penurunan tetapi kondisi di masyarakat masih tetap terjadi penularan yang masif.

Dia juga menyoroti kasus-kasus infeksi di kampung-kampung yang harus diwaspadai dan ditelusuri. Karena tidak menutup kemungkinan kasus infeksi dan kematian terjadi lebih besar tanpa diketahui.

Baca juga: Empat pasien COVID-19 di Barito Kuala dinyatakan sembuh

Baca juga: Pasien terpapar COVID-19 sembuh di Barito Kuala capai 670 orang


"Warga di kampung atau pedesaan boleh jadi menganggap penyakit yang melanda lingkungan mereka bukan COVID-19, namun hanya penyakit pernapasan. Potensi masalah seperti inilah yang harus diwaspadai dan ditelusuri oleh pemerintah daerah," katanya menyarankan.

Taqin mencontohkan Kabupaten Barito Kuala di Kalimantan Selatan yang kini keluar dari penerapan PPKM level 4 berdasarkan turunnya asesmen situasi COVID-19 dari level 4 menjadi level 3 didorong oleh penurunan kasus konfirmasi dan keterisian tempat tidur pasien COVID-19 di rumah sakit.

Jika pada 9 Agustus insiden kasus konfirmasi di Barito Kuala dalam sepekan 168 kasus per 100 ribu penduduk, maka 23 Agustus turun menjadi 70. Kemudian BOR yang sebelumnya 81 persen turun ke tingkat 28 persen.

"Meskipun penurunan insiden kasus konfirmasi dan BOR rumah sakit signifikan, ada fakta yang sangat mengganggu yaitu penurunan kasus konfirmasi tersebut dipicu oleh anjloknya testing," ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah penduduk Barito Kuala yang menjalani pemeriksaan selama 7 hari pada 9 Agustus sebanyak 654 orang. Pada 16 Agustus turun menjadi 322 orang dan 23 Agustus anjlok menjadi 275 orang. Sementara hasil tracing masih sangat rendah yaitu 2,68 rasio kontak erat.

"Apalagi tingkat positivitas hasil pemeriksaan sepekan terakhir pada 23 Agustus masih sangat tinggi yaitu 59 persen," ucap Taqin.*

Baca juga: Dua warga Barito Kuala Kalsel sembuh dari COVID-19

Baca juga: Dari klaster perusahaan, positif di Barito Kuala-Kalsel naik 640 kasus