Nunukan (ANTARA) - Tim Penggerak PKK Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), yang berada di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia fokus mencegah persoalan stunting (gizi buruk) dan pernikahan dini.

Ketua Kelompok I TP PKK Kabupaten Nunukan Hj Fajar Arsidana di Nunukan, Selasa menyatakan, perlu keterlibatan lembaga di daerah untuk melakukan langkah-langkah nyata dalam melakukan pencegahan terhadap stunting dan pernikahan dini.

Hal ini berkaitan dengan kondisi Kabupaten Nunukan yang berada di wilayah perbatasan dan sebagian masih berada di pelosok dan pedalaman dengan situasi kehidupan yang membutuhkan bimbingan.

Ia menegaskan pencegahan kasus stunting dan pernikahan dini menjadi fokus perhatian TP PKK Nunukan​​ sehingga dalam waktu dekat ini akan digelar sosialisasi dengan melibatkan Dasa Wisma masing-masing Rukun Tetangga (RT).

"Kami dari TP PKK Nunukan rencananya menggelar sosialisasi tentang pencegahan stunting dan pernikahan dini," kata mantan legislator di DPRD Nunukan ini.

Pandemi COVID-19 diakui masih menjadi tantangan dan hambatan untuk mengefektifkan program-program kerja dalam pelaksanaan sosialisasi ini. "Semoga tidak mencekam lagi pandemi COVID-19 supaya kami bisa melaksanakan sosialisasi soal stunting dan pernikahan dini," ungkap dia.

Dia menilai kasus stunting terjadi karena anak dilahirkan dalam kondisi kurang gizi sejak dalam kandungan. Kemudian, stunting juga disebabkan oleh pernikahan dini saat rahim ibunya belum siap untuk dibuahi.

"Mengenai sosialisasi kasus stunting dan pernikahan dini ini menjadi program prioritas kelompok kerja I TP PKK Nunukan," kata dia.
Baca juga: Disabilitas-anak pekerja migran di Nunukan dapat akta lahir sambut HAN
Baca juga: Sebanyak 50 WNI dipulangkan dari Sabah Malaysia