Mataram (ANTARA) - Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat menyatakan, ketersediaan oksigen di wilayahnya mulai menipis seiring melonjaknya angka pasien COVID-19.

"Kalau saya ibaratkan persediaan oksigen kita ini seperti lampu kuning. Dalam artian kita waspada terhadap oksigen ini," kata Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr Lalu Hamzi Fikri usai mengikuti rapat koordinasi evaluasi penangangan COVID-19 di NTB yang dilaksanakan di Kantor Gubernur NTB di Mataram, Senin.

Ia menyatakan, menipisnya persediaan oksigen itu tidak terlepas tingginya permintaan oksigen oleh rumah sakit seiring melonjaknya pasien positif COVID-19 yang mendapat perawatan.

"Konsumsi terbanyak itu di RSUD Provinsi NTB dan RSUD Kota Mataram karena merupakan rumah sakit rujukan COVID-19 dan banyak menangani pasien pasien COVID-19," ucapnya.

Baca juga: Petugas pos penyekatan Mataram temukan 69 orang positif COVID-19
Baca juga: Satgas COVID-19 Pemenang jemput seorang WN India terkonfirmasi positif


Menurut Hamzi Fikri, ketersediaan oksigen di NTB sebanyak 220 ton, sedangkan permintaan oksigen karena lonjakan kasus COVID-19 menjadi 80 sampai 120 ton sebulan, bahkan hingga 160 ton.

"Rata-rata kebutuhan rumah sakit sehari itu 8 ton. Sehingga bisa dibayangkan sebulan berapa kita butuhkan oksigen karena ada lonjakan kasus sehingga kebutuhan oksigen menjadi over kapasitas. Sementara persediaan tidak banyak," terang mantan Direktur RSUP NTB ini.

Karena itu, lanjut Hamzi Fikri, untuk menjaga ketersediaan oksigen di dalam daerah tidak ada cara lain rumah sakit harus melakukan efisiensi oksigen atau Non Invasive Ventilator (NIV) untuk membantu pasien COVID-19.

"Adanya peningkatan kasus perlu yang harus dijaga itu soal ketersediaan oksigen. Ketika pasien masuk ruang ICU maka kebutuhan oksigen itu akan tinggi. Karena satu pasien itu butuh 20 - 30 tabung sehari. Karena dia (pasien) butuh suplai oksigen yang cukup tinggi," katanya.

Baca juga: RSUD Provinsi NTB siap hadapi kemungkinan terburuk COVID-19
Baca juga: 13 kasus COVID-19 varian delta terdeteksi di NTB