Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin menilai kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu bukti bahwa sektor pertanian kokoh saat pandemi dan perlu lebih ditingkatkan anggarannya.

"Kenaikan NTP ini sudah merupakan bukti nyata, bahwa sektor pertanian ini relatif kokoh dalam kondisi pandemi," kata Andi Akmal Pasluddin dalam siaran pers di Jakarta, Minggu.

Namun, ia mengingatkan bahwa tingkat kemiskinan di pedesaan masih relatif tinggi yang notabene masyarakat pedesaan biasa berprofesi sebagai petani, peternak atau pembudidaya ikan dan nelayan.

Untuk itu, ujar dia, masih banyak hal yang perlu dilakukan untuk peningkatan NTP ini sehingga akan perlahan-lahan merubah struktur ekonomi masyarakat Indonesia.

Akmal menegaskan perlunya peningkatan alokasi APBN baik di Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) maupun KLHK.

Kementerian-kementerian tersebut merupakan kementerian teknis yang banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat kecil terutama masyarakat pedesaan atau pelosok bahkan sampai pinggiran batas negara, katanya.

Sebelumnya, Ketua DPD RI AA La Nyalla Mahmud Mattalitti menyambut positif peningkatan kesejahteraan petani dilihat dari meningkatnya daya beli petani yang tercermin dari indeks Nilai Tukar Petani (NTP) pada Juni yang meningkat sebesar 0,19 persen.

“Kurva NTP dan nilai tukar usaha pertanian (NTUP) yang meningkat dari waktu ke waktu merupakan sesuatu yang positif. Ini menunjukkan kesejahteraan petani secara perlahan mulai membaik,” kata La Nyalla.

NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan daya beli petani. NTP menunjukkan daya tukar dari produk pertanian baik dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.

Data BPS menyebutkan NTP bulan Juni 2021 sebesar 103,59, atau naik 0,19 persen dibandingkan bulan lalu. Hal ini karena indeks yang diterima petani naik 0,01 persen, sementara indeks yang dibayarkan petani turun 0,18 persen.

Berdasarkan subsektor, kenaikan NTP terjadi pada sektor tanaman pangan, yaitu sebesar 0,43 persen dari 96,85 menjadi 97,27. Kenaikan terjadi karena harga gabah naik.

Untuk NTP tanaman perkebunan rakyat naik 0,71 persen karena harga cengkeh dan karet yang melonjak. Sementara NTP peternakan naik 0,33 persen setelah tingginya harga sapi potong dan kambing.

“Saat ini sektor pertanian memang menjadi sektor yang paling tangguh di era pandemi dibanding sektor ekonomi lainnya. Sektor ini juga sekaligus paling tahan banting dari berbagai ancaman gejolak dan krisis yang ada," kata La Nyalla.

Baca juga: BPS sebut kebijakan pengendalian inflasi harus berpihak pada petani
Baca juga: Serikat petani minta pemerintah naikkan HPP atasi penurunan NTP
Baca juga: Kementan sebut penurunan NTP April momentum jaga harga tingkat petani