Yogyakarta (ANTARA) - Peringatan Hari Purbakala ke-108 di masa pandemi COVID-19 dapat menjadi momen untuk membuat budaya luhur Indonesia lebih mendunia lewat bantuan kemajuan teknologi.

"Ke depan kita selain melestarikan, kita juga harus melihat apa yang di masa depan kita bisa lakukan dengan kemajuan teknologi sekarang.
Misalnya di masa pandemi itu kan kegiatan di lapangan terbatas. Apakah kita hanya diam saja atau bisa lakukan sesuatu dari kemajuan teknologi masa kini," kata arkeolog Universitas Gadjah Mada Prof Inajati Adrisijanti dalam Ngobrol Seru Soal Borobudur "Pesan untuk Generasi Muda" dalam rangka memperingati Hari Purbakala ke-108 secara daring diakses di Yogyakarta, Senin.

Ia mengatakan memang ada yang tidak bisa dilakukan di rumah, misalnya ekskavasi. Tapi banyak pihak, seperti contohnya Balai Konservasi Borobudur, bisa mengambil prakarsa untuk bisa melakukan sesuatu di situasi pandemi COVID-19 saat ini.

Ke depan, menurut Prof Inajati, juga demikian, perlu dipikirkan bagaimana kekayaan budaya luhur yang ada bisa dipahami masyarakat lebih luas lagi, tidak hanya mereka yang ada di Indonesia tapi juga di luar negeri, dengan pemahaman yang benar, citra yang benar sehingga bisa menambah pengetahuan bagi banyak orang dan sekaligus memberikan penghargaan atas kekayaan budaya bangsa.

"Juga tumbuhkan pelestarian budaya, ya kita sendiri yang lakukan masa dilakukan orang lain. Penelitian harusnya dilakukan oleh masyarakat kita sendiri. Meski kita tidak ingin jadi sauvinistis, tapi interaksi dengan orang luar tidak akan membunuh kita, justru memperkaya kita sehingga perlu kita kembangkan, jangan menutup diri. Kita membuka diri pertemuan dengan budaya lain," ujar arkeolog yang akrab disapa Poppy tersebut.

Baca juga: BKB buka penutup stupa Candi Borobudur

Baca juga: Lindungi erupsi Merapi, penutup stupa Candi Borobudur dipertahankan


Hal itu, menurut dia, penting, karena kalau tidak Indonesia jadi tidak punya konteks mendunia.

Sementara itu, dalam pesan peringatan Hari Purbakala ke-108, Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan capaian pelestarian cagar budaya di masa lampau menjadi lebih penting lagi mengingat begitu banyak tantangan yang dihadapi di tengah pandemi COVID-19. Salah satu tantangan yang harus dipecahkan bagaimana masyarakat tetap bisa mengakses cagar budaya di situasi wabah penyakit masih merebak.

Untuk keperluan itu, ia mengatakan pemerintah pusat bersama pemerintah daerah menyiapkan protokol kesehatan, sehingga masyarakat tetap dapat mengakses cagar budaya sambil tetap menjaga keamanan dan keselamatan diri.

"Terima kasih komunitas kepurbakalaan di seluruh Indonesia yang selalu terus memberi informasi terkini yang terjadi di lapangan, sehingga kebijakan pelestarian dan langkah konkrit menjaga kelestarian purbakala tetap dapat berjalan baik," ujar Hilmar.

Pada Hari Purbakala saat ini, menurut dia, kesempatan untuk melakukan refleksi dengan mengajukan berbagai pertanyaan mendasar, apakah kegiatan pelestarian kepurbakalaan selama ini sudah memberi kontribusi signifikan bagi penguatan karakter dan kesejahteraan masyarakat. Apakah pola pengelolaan kelestarian dan penelitian, dan pengelolaan cagar budaya sudah betul, terukur baik dan berjalan transparan serta akuntabel.

Selain itu, hal juga perlu ditanyakan apakah cagar budaya sudah menjadi aspek penting dalam pembangunan bangsa. "Semua pertanyaan mendasar ini saya kira patut mendapat perhatian kita semua. Dan mari gunakan momen itu untuk diskusikan dan bahas sehingga keluar dengan kesimpulan lebih baik dan tentunya arahkan langkah kita ke depan," ujar Hilmar.

Baca juga: BKB gandeng generasi muda kampanye pelestarian cagar budaya

Baca juga: BKB rutin lakukan pengukuran stabilitas bangunan Candi Borobudur