Jakarta (ANTARA) - Direktur Eksekutif Indonesian Presidential Studies (IPS) Jakarta Nyarwi Ahmad memaparkan kondisi Partai Amanat Nasional (PAN) akan bertransformasi menjadi lebih moderat, usai ditinggalkan Amien Rais sebagai salah seorang pendiri partai.

"Analisis saya, sejumlah konsekuensi akan terjadi di PAN," kata Ahmad dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Ahmad menjelaskan konsekuensi pertama secara ideologis, tampaknya PAN akan bertransformasi menjadi partai dengan basis ideologi keislaman yang lebih moderat dan memiliki warna nasionalisme kebangsaan yang lebih kental.

Keluarnya figur Amien Rais dari PAN, menjadikan partai itu lebih longgar dalam mereformulasikan positioning ideologisnya. Menurut Ahmad, PAN tidak lagi berbasis pemilih dengan orientasi ideologi keislaman saja, namun juga kelompok-kelompok pemilih yang memiliki orientasi ideologi di luar itu.

Selanjutnya konsekuensi kedua, secara organisasi, PAN akan menjadi partai elektoral profesional (electoral professional party), karena tidak lagi tergantung pada bayang-bayang figur tertentu, khususnya Amien Rais.

"Ini menjadi peluang sekaligus juga tantangan," ujar Ahmad.

Pengajar Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Gajah Mada tersebut menjelaskan PAN memiliki peluang untuk merekrut beragam jenis sumber daya elite dan profesional dengan orientasi ideologi yang lebih terbuka. Mereka tidak hanya berbasis pada orientasi keislaman, khususnya yang berasal dari kalangan pendukung Muhammadiyah.

Namun, ini juga menjadi tantangan bagi PAN, karena elektabilitas partai masih sangat rendah sebagai sebuah organisasi, sebagaimana terpotret dalam sejumlah lembaga survei, termasuk Indonesian Presidential Studies (IPS).

Data IPS, April 2021 menunjukkan elektabilitas partai ini hanya berkisar di angka dua persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan partai-partai yang berbasis pemilih Islam lainnya yang saat ini memiliki kursi di DPR RI, seperti PPP tiga persen, PKS 4,8 persen, dan PKB 6,4 persen. Elektabilitas PAN tersebut masih berada di bawah angka parliamentary threshold (PT).

Dengan hasil itu, kata Ahmad, nasib partai ini untuk Pemilu Legislatif (Pileg) 2024 mendatang masih belum sepenuhnya. Para pimpinan dan elite partai ini tentunya dituntut kerja keras lagi agar bisa menembus PT tersebut. Nasib partai ini dalam Pileg 2024 mendatang akan sangat ditentukan oleh sejauh mana mereka mampu mencari atau menciptakan figur-figur yang memiliki dua kemampuan sekaligus, yaitu sosok yang mampu memperkuat struktur organisasi kepartaian dan sekaligus memiliki daya magnetis elektoral.

Konsekuensi ketiga, PAN tidak lagi menjadi partai yang didominasi dinasti politik, khususnya dari keluarga Amien Rais. PAN memiliki kesempatan besar untuk mengembalikan dirinya sebagai partai yang terbuka, sebagaimana yang pernah terjadi ketika partai ini didirikan pasca-Reformasi 1998.

Konsekuensi terakhir, PAN tanpa bayang-bayang Amien Rais bisa lebih dinamis. Sebagai sebuah partai politik, partai ini juga berpeluang memperkuat proses demokrasi yang berada di level internal organisasi. Peluang PAN untuk bermanuver dalam panggung politik nasional akan lebih terbuka dan gesit.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi mengatakan secara resmi Amien Rais tak lagi menjadi bagian dari PAN, setelah mengumumkan pendirian partai baru yakni Partai Ummat.
Baca juga: PAN tak terganggu dengan berdirinya Partai Ummat
Baca juga: Politikus PAN: Slogan "PAN adalah Amien Rais" sudah berlalu