Jakarta (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau tahun ini tidak akan sebasah pada 2020 karena itu kesiapsiagaan pencegahan kebakaran hutan dan lahan harus ditingkatkan.

"Untuk tahun ini musim kemarau kita dari mulai Juni sampai dengan September sama seperti pola normalnya," kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Herizal dalam diskusi virtual tangkal kebakaran hutan dan lahan Forum Merdeka Barat 9, dipantau dari Jakarta pada Senin.

Dengan prakiraan tersebut, jelas Herizal, maka kemarau pada tahun ini tidak akan sebasah pada 2020 ketika fenomena iklim La Nina meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia.

"Ketika tidak sebasah 2020 artinya memang kesiapsiagaan kita harus ditingkatkan paling tidak sama seperti tahun-tahun normal," katanya.

Baca juga: Cuaca kemarau basah rugikan petani tembakau di lereng Merapi/Merbabu

Baca juga: BMKG: DIY akan alami kemarau basah


BMKG juga menganalisa bahwa 55 persen wilayah Indonesia telah mulai memasuki musim kemarau.

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Menteri Lingkungan Hidup (LHK) Alue Dohong mengatakan sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo telah dilakukan langkah pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Setelah mengidentifikasi daerah-daerah rawan kebakaran, maka langsung dilakukan pembasahan dengan menggunakan teknologi modifikasi cuaca (TMC) sebagai tindakan preventif dari kebakaran hutan dan lahan.

Alue mengatakan bahwa daerah-daerah rawan di Sumatera dan Kalimantan memiliki kerentanan akan kebakaran hutan dan lahan karena memiliki lahan gambut yang telah kering karena telah dibuka dan dibuat kanal yang mengurangi tingkat kebasahannya.

"Gambut itu kalau sudah kering jadi bahan bakar, tinggal mematik api saja karena gambut itu 60 persen itu biomassa," jelas Alue.

Baca juga: Walhi Sumsel ingatkan waspada karhutla

Baca juga: Kiara ingatkan kemarau basah harus diantisipasi pemerintah