Jakarta (ANTARA) - Peneliti dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menilai transparansi atas progres sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) bisa membantu mengatasi masalah minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang kelebihan produksi.

Peneliti LPEM FEB UI Bisuk Abraham dalam diskusi daring mengenai progres Biodisel B30 yang dipantau di Jakarta, Rabu, mengatakan implementasi sertifikasi ISPO bisa memberikan daya tawar kepada pasar internasional bahwa produk kelapa sawit Indonesia telah menerapkan prinsip-prinsip produksi sawit berkelanjutan yang memperhatikan aspek perlindungan lingkungan dan sosial.

Produk minyak kelapa sawit Indonesia kerap mendapatkan kampanye hitam dari Eropa karena dalam produksinya berkontribusi dalam peningkatan emisi gas rumah kaca yang dapat merusak lingkungan. Namun dengan sertifikasi ISPO, proses produksi kelapa sawit telah distandarisasi dengan prinsip produksi sawit berkelanjutan, yang salah satu prinsipnya menjaga keberlangsungan lingkungan.

Baca juga: Kajian: Program Biodisel B30 jaga harga CPO dan kesejahteraan petani

Dengan sertifikasi ISPO ini, negara-negara Eropa tidak lagi memiliki alasan untuk memboikot produk turunan kelapa sawit asal Indonesia karena dianggap merusak lingkungan. Pada akhirnya, produk kelapa sawit Indonesia dapat memperluas pangsa pasar di skala internasional yang bisa menjadi solusi untuk masalah kelebihan pasokan di Indonesia.

Namun persoalannya menurut Bisuk, hingga saat ini belum dapat diketahui perkembangan implementasi sertifikasi ISPO di Indonesia baik di tingkat industri besar hingga ke level petani mandiri yang mengelola kebun sawit miliknya sendiri.

"Info terakhir yang saya cari update Juni 2020 dan itu pun masih di bawah 50 persen. Artinya kalau kita ingin tahu apakah ISPO ini cukup efektif, saya belum bisa kasih komentar karena tidak ada data," kata Bisuk.

Baca juga: Ekspor minyak sawit hasilkan devisa 3,74 miliar dolar AS pada Maret

Sekjen Serikat Petani Kelapa Sawit Indonesia (SPKSI) Mansuetus Darto mengatakan produksi minyak kelapa sawit Indonesia telah kelebihan produksi sejak 2018 hingga 2020 sebanyak 5 juta ton yang tidak memiliki pangsa pasar.

Untungnya, pemerintah memiliki program Biodisel B30 yaitu penggunaan bahan bakar yang 30 persennya berasal dari minyak kelapa sawit. Program Biodisel B30 dinilai mampu menjaga harga CPO di dalam negeri agar tidak jatuh.