Jakarta (ANTARA) - Kepala Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Doni Monardo menyebut keputusan pemerintah atas larangan mudik Lebaran merupakan pilihan yang strategis.

"Pilihan untuk larangan mudik ini adalah pilihan yang sangat strategis, dan kita semuanya harus mengikuti keputusan ini," ujar Doni dalam diskusi yang diselenggarakan Forum Merdeka Barat 9 di Jakarta, Rabu.

Doni memaparkan, berkaca dari pengalaman masa libur panjang selama pandemi COVID-19, pasti akan diikuti dengan kenaikan kasus aktif dan juga akan diikuti dengan bertambahnya angka kematian.

Hal tersebut tampak dari masa libur Lebaran Idul Fitri tahun 2020, kemudian libur panjang pada bulan Agustus, sampai dengan libur Natal dan Tahun Baru.

Doni memaparkan variasi angka kematian antara 46-75 persen. Demikian juga diikuti dengan kasus aktif COVID-19 dari posisi sekitar 70-116 persen.

"Jadi ini sangat tinggi sekali, setiap habis diperpanjang diikuti dengan kenaikan kasus aktif, bertambahnya jumlah pasien di rumah sakit, ruang perawatan ICU dan isolasi lebih dari 80 persen. Bahkan pada periode bulan Januari awal tahun lalu, beberapa provinsi telah mencapai lebih dari 100 persen, sehingga pasien harus dibawa ke luar provinsi," ujar Doni.

Baca juga: Satgas COVID-19: Mudik apapun bentuknya ditiadakan

Disamping itu Doni menjelaskan kenaikan angka positif pada masa liburan tahun lalu, diikuti angka kematian harian yang juga sangat tinggi, yakni lebih dari 250 orang per hari.

Baca juga: Silaturahmi virtual tidak kurangi berkah Lebaran. sebut PCNU Banyumas

Selain itu, pahlawan pejuang kemanusiaan dokter dan perawat juga tak luput menjadi korban terpapar COVID-19, karena merawat pasien terpapar virus SARS-CoV-2 yang terus bertambah.

Baca juga: Tidak mudik itu mematuhi ajaran agama juga

Sehingga, Doni menilai keputusan pemerintah melarang mudik merupakan keputusan yang sangat tepat untuk mencegah penyebaran dan paparan COVID-19.
Baca juga: Tidak mudik sama dengan berjihad untuk kemanusiaan, kata Wamenag