Jakarta (ANTARA) - Aset BUMD DKI Jakarta, PT Bank DKI selama 2020 mencapai Rp63,04 triliun atau tumbuh 13,4 persen dibandingkan capaian 2019 sebesar Rp55,60 triliun, meski di tengah tekanan ekonomi imbas pandemi COVID-19.

"Bank DKI menerapkan berbagai inisiatif dan pengelolaan risiko yang efektif untuk menjaga kualitas aset dan bisnis," kata Direktur Utama Bank DKI Zainuddin Mappa, di Jakarta, Rabu.

Dia menjelaskan pertumbuhan aset tersebut didorong oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang melonjak 31,16 persen dari Rp37,30 triliun menjadi Rp48,92 triliun pada 2020.

Dari total DPK itu, dana murah atau tabungan per Desember 2020 tercatat sebesar Rp11,07 triliun, tumbuh 5,04 persen dibandingkan 2019 sebesar Rp10,54 triliun.

Sedangkan giro per Desember 2020 sebesar Rp11,17 triliun, tumbuh 46,84 persen dibandingkan 2019 sebesar Rp7,61 triliun dan deposito tercatat Rp26,69 triliun atau tumbuh 39,30 persen dibandingkan 2019 mencapai Rp19,14 triliun.

Baca juga: Anies harap Bank DKI terus berinovasi

Menurut dia, pandemi virus corona memberi tekanan terhadap risiko kredit sehingga penyaluran kredit dan pembiayaan pada 2020 dilakukan selektif dan memperhatikan prinsip kehati-hatian.

Adapun penyaluran kredit dan pembiayaan selama 2020 mencapai Rp35,66 triliun atau terkontraksi 4,71 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Penurunan kredit sepanjang 2020 itu, lanjut dia, dikarenakan Bank DKI mengurangi eksposur kredit yang diberikan dari 2019 mencapai Rp3 triliun menjadi hanya Rp575 miliar pada 2020.

Upaya tersebut dilakukan mengingat belum pulihnya permintaan dunia usaha seiring imbas penyakit dari virus SARS CoV-2 itu.

Ia merinci realisasi kredit yang dikucurkan kepada sektor riil tetap tumbuh sebesar 1,95 persen dari semula Rp34,40 triliun pada 2019 menjadi Rp35,08 triliun pada 2020.

Baca juga: Bank DKI hadirkan JakOne Erte mudahkan urusan warga

"Bank DKI menjaga kualitas pertumbuhan kredit dengan fokus meningkatkan kredit pada sektor riil, dengan harapan mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya sektor riil agar bisa terus tumbuh selama pandemi," imbuhnya.

Berkat penyaluran yang selektif dan penerapan prinsip kehati-hatian, Bank DKI mencatatkan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL gross) berada di bawah rata-rata nasional.

Per Desember 2020, imbuh dia, NPL kotor (gross) mencapai 2,98 persen atau berada di bawah rata-rata NPL industri perbankan nasional sebesar 3,06 persen.

Untuk menjaga kelangsungan bisnis, Bank DKI telah membukukan pencadangan yang cukup untuk mengantisipasi penurunan kualitas kredit imbas dari pandemi COVID-19.

Adapun alokasi untuk cadangan kerugian penurunan kredit (CKPN) itu mendorong peningkatan rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) per Desember 2020 sebesar 5,98 persen menjadi 81,99 persen dari 2019 mencapai 76,01 persen.

Baca juga: Bank DKI raih penghargaan dalam ajang Indonesia Best BUMD Awards 2021

Meski begitu, rasio kecukupan modal (CAR) di bank daerah ini mengalami peningkatan menjadi 28,05 persen dari sebelumnya 25,78 persen.

Imbas pertumbuhan kredit pada 2020 melambat dan CKPN yang agresif mendorong melesunya capaian laba bersih.

Meski demikian, laba bersih Bank DKI masih tumbuh positif mencapai Rp580,6 miliar pada 2020.