Jakarta (ANTARA) - Perwakilan Koalisi Indonesia Cegah Kanker Serviks (KICKS) dr. Venita Eng mengatakan bahwa dari sejumlah kasus kanker serviks di Indonesia sebagian besar baru diketahui pada stadium lanjut.

"Dari keseluruhan kasus kanker serviks baru yang ditemukan di Indonesia, diketahui sebagian besar sudah pada stadium lanjut," kata dr. Venita Eng dalam seminar daring bertajuk "Girl Power: Living Life To The Fullest" yang dipantau di Jakarta, Selasa.

Dengan kondisi seperti itu maka pengobatan menjadi lebih sulit, lebih mahal serta tingkat keberhasilan juga rendah.

Baca juga: Ahli: alat kontrasepsi tidak kurangi risiko kanker rahim

Untuk itu, kata Venita, dibutuhkan edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat luas, terutama generasi muda bahwa vaksin HPV merupakan investasi kesehatan sebagai langkah perlindungan utama dari berbagai macam penyakit di masa depan yang diakibatkan oleh virus HPV.

Vaksinasi HPV tidak hanya mencegah bahaya kanker serviks, tetapi juga penyakit terkait HPV lainnya, seperti beberapa penyakit kulit dan kelamin pada pria.

Dia menambahkan kanker serviks dikenal sebagai silent killer bagi kaum perempuan karena inkubasi HPV tidak menunjukkan gejala apapun dan butuh waktu lama, bahkan dapat lebih dari sepuluh tahun untuk berkembang menjadi kanker serviks.

Menurut data GLOBOCAN 2020, angka kanker serviks di Indonesia meningkat hampir 15 persen dibandingkan pada tahun 2018 dengan jumlah kasus 36.6331 dan membunuh 57 perempuan Indonesia setiap harinya.

"Artinya lebih dari 21.000 keluarga di Indonesia setiap tahunnya ditinggalkan oleh ibu, anak perempuan atau istri karena kanker serviks," katanya.

Baca juga: Enam jenis kanker yang mengintai wanita
Baca juga: Kesha Ratuliu ajak kaum milenial vaksinasi HPV sebelum menikah
Baca juga: Waktu tepat dapatkan vaksinasi HPV untuk cegah kanker serviks