Denpasar (ANTARA News) - Gubernur Bali Made Mangku Pastika, mengintruksikan kepada pusat-pusat perbelanjaan dan para pedagang di daerah ini untuk menghindari penggunaan plastik sebagai alat pembungkus barang yang diperjual-belikan.

"Alat pembungkus plastik itu hendaknya diganti daun atau keras, sebagai upaya ikut menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan di Bali," harap Gubernur Pastika di Denpasar Senin.

Ia mengharapkan, masyarakat yang berbelanja ke pasar atau pusat perbelanaan dari rumah sudah menyiapkan tas, seperti yang dilakoni para orang tua dulu.

Dengan demikian penggunaan plastik akan dapat dihindari sedini mungkin, sekaligus membantu upaya mewujudkan kebersihan di daerah tujuan wisata Pulau Bali.

Gubernur Pastika menjelaskan, plastik yang selama ini dijadikan alat pembungkus tidak hancur dalam waktu 1.000 tahun, sehingga merusak struktur tanah.

Oleh sebab itu masyarakat dan pedagangan hendaknya menghindari penggunaan plastik, karena plastik yang berserakan di mana-mana dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan kebersihan tidak dapat diwujudkan.

Bali sebagai daerah tujuan wisata, diharapkan mampu menangani masalah sampah secara tuntas, sekaligus mewujudkan Bali sebagai Pulau hijau yang telah dicanangkan Maret lalu.

Hal itu perlu mendapat dukungan semua pihak, mengingat kebersihan menjadi keluhan utama wisatawan mancanegara dalam menikmati liburan di Pulau Bali.

"Ke depan pengolahan sampah menjadi sumber penghasilan yang cukup menggiurkan, sehingga mampu mengatasi masalah kebersihan dan menciptakan lapangan kerja baru," ujar Gubernur Pastika.

Volume sampah perkotaan di Bali setiap harinya rata-rata mencapai 5.094 meter. Untuk itu Pemerintah Provinsi Bali merintis pengolahan sampah menjadi pupuk anorganik, dengan harapan mampu memberikan nilai tambah sekaligus mewujudkan kebersihan lingkungan di Pulau Dewata.

Pabrik pengolahan sampah skala kecil tahap pertama itu akan dibangun di sekitar kawasan Pura Besakih (Karangasem), Goa Lawah (Klungkung) dan Pura Batur Kintamani (Bangli).

Pabrik pengolahan sampah ramah lingkungan pada tiga lokasi kawasan suci itu memprioritaskan sampah-sampah bekas kegiatan ritual, dan sisa-sisa yang tidak berguna dari masyarakat sekitarnya.

"Kita ingin sampah yang berserak bekas kegiatan ritual itu mampu memberikan nilai ekonomis," ujar Gubernur Pastika.
(ANT/A024)