Jakarta (ANTARA) - Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) dalam risetnya menyatakan bahwa Gojek telah menerapkan standar protokol kesehatan dan keamanan paling lengkap dan paling ketat, terutama untuk layanan angkutan daring, di antara penyedia jasa sejenis lainnya di banyak negara.

Dalam riset tahun 2020 ini, SBM ITB membandingkan penerapan kebijakan protokol kesehatan pada 13 perusahaan penyedia layanan transportasi daring di 10 negara sebagai bentuk perhatian mereka terhadap aspek keamanan dan keselamatan dari mitra pengemudi dan pelanggannya. Protokol Kesehatan yang dimaksud yakni protokol J3K, yaitu Jaga Kesehatan, Kebersihan dan Keamanan.

“Protokol J3K Gojek telah dikenal sebagai protokol kesehatan berstandar tinggi untuk layanan angkutan online. Dikatakan berstandar tinggi karena aspek keamanan Gojek tidak seperti para pemain lainnya di industri yang hanya diterapkan saat penumpang bersama mitra pengemudi, tetapi bahkan sejak sebelum penumpang bersama mitra pengemudi,” kata Direktur Center for Policy and Public Management SBM ITB Yudo Anggoro dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Layanan logistik Gojek meningkat selama pandemi

Baca juga: Investasi Gojek di LinkAja percepat target inklusi keuangan


Yugo membandingkan layanan Gojek dengan perusahaan transportasi daring di beberapa negara lainnya, seperti di Nigeria yang hanya menerapkan penggunaan helm sendiri bagi pengguna atau hanya menyediakan penyanitasi tangan saja.

Sementara itu di Inggris, penyedia transportasi daring Lyft menerapkan penggunaan partisi dan masker bagi mitra pengemudinya.

“Di Gojek, aspek kesehatan dan keamanan ini sangat menyeluruh, seperti masker wajib ada, kendaraan wajib didisinfektan, lalu dipasang ada sekat antara pengemudi dan pengguna, dan pengemudi wajib diukur dulu suhu tubuhnya, protokol itu rutin harus dilakukan dan itu yang membuat standar layanan Gojek lebih komprehensif dan sudah memenuhi aspirasi penggunanya,” ucap dia.

Chief Transport Officer Gojek Raditya Wibowo menyatakan bahwa protokol J3K Gojek difokuskan pada tiga pilar utama yakni pilar edukasi, teknologi, dan infrastruktur yang saling melengkapi.

Tiga pilar ini, kata dia, berfungsi untuk terus mendorong kebiasaan taat protokol kesehatan yang telah terbentuk di masyarakat dapat dijalankan secara ketat.

Raditya menambahkan dari ketiga pilar tersebut, pilar edukasi memiliki peran paling besar dalam membentuk kebiasaan positif para pengguna ekosistem.

“Data internal kami bahkan menunjukkan ada lebih dari 700.000 penolakan order yang dilakukan mitra driver kepada pelanggan yang tidak memakai masker,” kata dia.

Untuk menjaga kesehatan dan bentuk dukungan bagi program pemerintah, Gojek mengakui bahwa mayoritas mitra driver Gojek bersedia untuk divaksinasi setelah mengikuti kegiatan edukasi mengenai vaksin yang diselenggarakan oleh Gojek.

Dia menilai beberapa temuan tersebut menjadi bukti bahwa inisiatif J3K Gojek berdampak sangat positif bagi perubahan kebiasaan di dalam ekosistem Gojek.

Lebih lanjut Raditya mengatakan bahwa Gojek percaya setiap orang memiliki peran dalam menjaga kesehatan, kebersihan, dan keamanan satu sama lain, sehingga Gojek menghadirkan gerakan #PesanDariRumah yang terinspirasi dari aspirasi keluarga mitra driver untuk selalu mengingatkan dan meningkatkan kedisiplinan serta tanggung jawab bersama antara pelanggan serta mitra driver dalam menerapkan protokol J3K selama berkendara.

"Dengan melibatkan keluarga mitra driver dalam gerakan #PesanDariRumah, kami berharap kesadaran dan kepatuhan terhadap protokol J3K terus terjaga dan dapat berkontribusi dalam upaya menekan angka penyebaran COVID-19,” kata Raditya.

Baca juga: Gojek dorong berusaha dari rumah dan dukung protokol J3K

Baca juga: Gojek: 700 ribu order dibatalkan mitra karena pengguna langgar prokes

Baca juga: Prokes di ojol akan terus diterapkan di masa depan