Singapura (ANTARA) - Saham Singapura ditutup 0,4 persen lebih rendah pada Kamis, karena investor lebih mengkhawatirkan dampak inflasi dari pengeluaran besar-besaran pemerintah AS, daripada sejumlah data yang menunjukkan ekonomi AS membaik.

Pasar AS ditutup beragam pada hari Rabu setelah risalah pertemuan kebijakan bulan lalu menunjukkan bahwa pejabat Federal Reserve (Fed) tidak melihat adanya kondisi yang membuat bank sentral mengurangi program pembelian aset besar-besaran, untuk "sementara waktu."

Penjualan ritel AS melonjak pada Januari, paling tinggi dalam tujuh bulan, mengalahkan semua perkiraan pasar dan saran daftar stimulus baru membantu memacu meningkatnya permintaan rumah tangga.

Baca juga: IHSG ditutup jatuh, setelah Bank Indonesia turunkan suku bunga acuan

Sementara itu harga minyak mentah di Asia naik setelah American Petroleum Institute disebutkan akan melaporkan penurunan pasokan minyak mentah domestik periode pekan lalu. Cuaca beku yang sangat dingin yang menyebabkan pemadaman listrik bersejarah di wilayah AS bagian tengah telah menyebabkan produksi minyak turun lebih dari 4 juta barel per hari secara nasional.

Riset Ritel Maybank-Kim Eng mengatakan, "secara teknis, Indeks Straits Times tampaknya sedang konsolidasi di sekitar resisten awal pada 2.950 poin, sementara level support terletak di 2.840 poin, dalam waktu dekat."

Indeks Straits Times, turun 11,58 poin menjadi 2.908,85 poin. Volume perdagangan 3,11 miliar saham senilai 1,26 miliar dolar Singapura. Jumlah saham yang turun melebihi jumlah naik dengan 261 berbanding 187.

Baca juga: Saham Hong Kong jatuh 1,6 persen, turun dari tertinggi 32 bulan

CSE Global kehilangan 3 persen menjadi 48,5 sen Singapura. Perusahaan itu mendapatkan 98,4 juta dolar Singapura pesanan baru pada kuartal keempat tahun lalu, sehinga kontrak setahun penuh menjadi 431,5 juta dolar Singapura dan mengangkat nilai pesanan bersih menjadi 236 juta dolar Singapura.

Pesanan terendah terutama berasal dari segmen minyak dan gas karena tidak adanya pesanan minyak dan gas lapangan hijau yang besar, demikian juga pesanan dari pertambangan dan mineral. Hal ini sebagian diatasi oleh pesanan bidang infrastruktur yang lebih tinggi, didukung oleh aliran proyek yang stabil di Australia dan Singapura.

Hal ini memperingatkan bahwa lingkungan pasar saat ini yang dipengaruhi Virus Corona, harga minyak dan gas yang rendah, dan prospek ekonomi global yang lemah, masih menimbulkan banyak ketidakpastian dan tantangan bagi grup perusahaan itu.

Di antara saham berkinerja terbaik, Jardine Strategic naik 1,77 persen menjadi 24,78 dolar AS, sementara DBS Group Holdings Ltd menjadi salah satu yang paling merugi dengan turun 0,92 persen menjadi 25,76 dolar Singapura. (1 dolar AS sama dengan 1,33 dolar Singapura).

Baca juga: Saham China ditutup bervariasi, Indeks Shanghai naik 0,55 persen

Baca juga: Saham Tokyo ditutup jatuh, tertekan aksi investor ambil untung