Beijing (ANTARA) - Perusahaan jasa pengiriman logistik di China mendapatkan limpahan berkah dari kebijakan larangan mudik selama musim libur panjang Tahun Baru Imlek.

Data yang dirilis Biro Pos China (SPB) menyebutkan bahwa pada hari pertama dan kedua libur Imlek, Kamis (11/2) dan Jumat (12/2), telah terkirim 130 juta paket ke berbagai wilayah di China.

Jumlah pengiriman tersebut naik 223 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada Imlek tahun lalu, demikian SPB dikutip media setempat, Senin.

Saat-saat menjelang Imlek biasanya merupakan masa puncak kepadatan arus mudik di China. Namun, tahun ini sebagian besar pemerintah daerah di China mengeluarkan kebijakan larangan mudik untuk mencegah merebaknya wabah COVID-19.

Para pekerja migran dari berbagai daerah dan masyarakat lokal mematuhi kebijakan tersebut sehingga memilih tidak bepergian ke luar kota.

Baca juga: Anjuran tak mudik Imlek efektif, penumpang KA China turun 70 persen

Sebagai ganti tidak bertemu anggota keluarga dan pesta makan-makan bersama, masyarakat China memilih untuk mengirimkan parsel atau membeli paket secara daring untuk dikirimkan kepada anggota keluarga yang tinggal di kampung halaman.

Perubahan gaya hidup seperti itu yang membuat perusahaan logistik di China mengalami peningkatan permintaan jasa layanan.

Pemerintah China berjanji akan menjamin ketersediaan kebutuhan sehari-hari dengan meminta platform dagang elektronik dan perusahaan logistik tetap beroperasi secara normal selama libur Imlek yang berlangsung pada 11-18 Februari 2021 itu.

Sementara itu, dalam 38 hari terakhir, 10 miliar parsel telah terkirim melalui beberapa perusahaan logistik di China.

Selama libur Imlek tahun 2021 ini perusahaan logistik diperkirakan melayani 95,5 miliar parsel atau naik 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca juga: Imlek di China, perayaan tanpa pesta