Jakarta (ANTARA) - Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meminta penyuluh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan sosialisasi tidak hanya soal jumlah anak dan jarak antara kelahiran, namun bagaimana membangun ketahanan keluarga secara utuh.

“Yang paling penting disosialisasikan adalah membangun ketahanan keluarga secara utuh dalam berbagai bidang baik kesehatan, ekonomi, pendidikan anak,” kata Presiden saat membuka Rakornas Kemitraan Program Bangga Kencana Tahun 2021 di Istana Negara Jakarta, Kamis,.

Selain ketahanan keluarga, pilar-pilar kebahagiaan keluarga seperti penanganan gizi, kualitas sanitasi, kualitas lingkungan, akses pendidikan, kesehatan sampai terjaganya sumber-sumber pendapatan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pendampingan dan pemberdayaan yang harus dilakukan BKKBN ke masyarakat.

Baca juga: Presiden Jokowi minta penyuluh BKKBN gunakan komunikasi "kekinian"

Presiden juga meminta BKKBN menerapkan strategi yang berbeda dalam pendampingan dan pemberdayaan. Hal itu karena kelompok sasaran utama dari program BKKBN adalah adalah generasi muda atau keluarga-keluarga muda yang saat ini kehidupannya dekat dengan digitalisasi.

“Semua punya telepon genggam (HP) dan sering melihat HP, media sosial. Oleh karena itu metode komunikasi BKKBN juga harus berubah, harus berkarakter kekinian, penyampaian-penyampaian informasi gunakan media-media yang kekinian sehingga sampai pesan itu ke sasaran yang kita inginkan,” ujar dia.

Baca juga: Presiden tekankan BKKBN pegang kendali pencegahan stunting

Presiden mengapresiasi kinerja petugas BKKBN dalam memberikan pendampingan dan pemberdayaan ke masyarakat terutama di pedesaan.

Petugas BKKBN tidak hanya berperan dalam pengendalian kependudukan melalui Program Keluarga Berencana, namun juga dapat meningkatkan kualitas kehidupan keluarga.

“BKKBN sangat strategis bagi masa depan bangsa dan negara kita karena sesungguhnya keluarga adalah tiang negara. Jika seluruh keluarga hidup berkualitas maka Indonesia juga akan berkualitas, Indonesia juga akan sejahtera dan jangan lupa di tengah keluarga akan lahir keluarga yang sehat dan berkualitas,” ujarnya.

Baca juga: BKKBN: 12 persen kehamilan di Indonesia tak terencana