Banda Aceh (ANTARA) - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mulai memasang alat untuk mengukur pergerakan tanah (seismometer), guna meneliti tingkat pergeseran tanah yang terjadi di Gampong Lamkleng Kabupaten Aceh Besar Provinsi Aceh sejak beberapa hari lalu.

“Kita membawa peralatan seismometer portable yang mulai hari ini hingga beberapa hari ke depan akan dicoba melihat sampai sejauh mana area ini pergerakannya,” kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Aceh Besar Djati Cipto Kuncoro di Aceh Besar, Sabtu.

Baca juga: Anggota DPR minta Bupati relokasi warga dari lokasi pergeseran tanah

Djati menjelaskan pergeseran tanah di pemukiman penduduk tersebut terus mengalami peningkatan setiap harinya. Pada Kamis (14/1) data BMKG menunjukkan penurunan tanah itu mencapai 80 centimeter.

“Namun sekarang kalau kita melihat penurunannya sudah lebih dari 120 centimeter,” kata Djati menjelaskan.
Warga mengamati lokasi tanah yang amblas akibat bencana tanah bergerak di Desa Lamkleng Kecamatan Cot Glie, Aceh Besar, Aceh, Sabtu (16/1/2021) ANTARA/Irwansyah Putra


Dia menambahkan setelah melakukan pemasangan seismometer portable tersebut, selanjutnya tim ahli dari BMKG nantinya juga akan menganalisa terkait lapisan-lapisan tanah yang semakin bergerak tersebut.

Baca juga: Bupati tinjau lokasi Tanah Bergerak di Lamkleng

“Setelah pemasangan alat, kemudian teman-teman kita akan melakukan analisa terkait lapisan-lapisan di area ini yang hari demi hari terus bergerak,” katanya lagi.

Kata Djati, BMKG masih belum bisa memastikan fenomena apa yang terjadi di Aceh Besar tersebut. Pihaknya juga akan terus melakukan kajian bersama Tsunami and Disaster Mitigation Research Center (TDMRC) Universitas Syiah Kuala (USK) serta beberapa lembaga lain.

Baca juga: Warga Aceh mulai mengungsi akibat terjadinya pergeseran tanah

“Kita masih melakukan penelitian berdasarkan peralatan, walaupun secara visualisasi sudah dapat kita sampaikan faktor hidrometeorologi, intensitas curah hujan yang beberapa hari cukup tinggi juga akan menjadi referensi,” katanya.

Sementara itu, Bupati Aceh Besar Mawardi Ali menyampaikan bahwa pemerintah sudah menyiapkan lokasi untuk proses evakuasi, dan juga telah memerintahkan dinas terkait memberikan bantuan masa panik.

"Saya sudah perintahkan Dinas Sosial untuk memberikan bantuan masa panik. Karena yang paling penting kita harus selalu siap siaga menghadapi fenomena ini,” kata Mawardi.

Sejauh ini, Pemerintah Aceh Besar juga sudah mendirikan posko siaga di sekitar lokasi pergeseran tanah itu, serta mendirikan tenda pengungsian. Dilaporkan sebanyak 14 unit rumah terdampak akibat pergeseran tanah itu, lima jiwa dalam dua kepala keluarga juga telah mengungsi.