Makassar (ANTARA) - Virus Corona yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia memberikan pengaruh besar terhadap sendi kehidupan, bukan hanya krisis kesehatan namun meluas hingga ekonomi dan sosial kemasyarakatan.

Berbagai sektor nyaris tergerus akibat penyebaran virus corona jenis baru itu, termasuk pada sektor pertanian di Sulawesi Selatan.

Sebagai penyanggah pangan nasional, pertanian Sulsel juga tidak lepas dari keterpurukan selama masa pandemi. Tidak sedikit petani yang mengeluhkan penjualan hasil pertanian sejak pandemi menurun. Tapi lakon petani pun tidak bisa tergantikan.

Para petani tetap harus melakukan aktivitas di tengah pandemi, tanpa mengenal lelah, tanpa takut merugi, apalagi takut terkena virus corona yang kian mengganas. Maka tidak berlebihan jika mereka disebut pahlawan pangan.

Syahrul Anwar, seorang petani cabe dan padi di Desa Kalukuang, Kabupaten Takalar, Sulsel mengaku libur atau tidak bekerja akibat pandemi tidak berlaku pada sektor pertanian, karena tidak sedikit petani yang menganggap sawah sangat aman dari virus corona.

"Jadi ini tidak menghambat pekerjaan kami. Bahkan, banyak dari petani yang tinggal seharian di sawah karena takut diperiksa, jadi bekalnya dibawa ke sawah. Malam baru kembali ke rumah," ungkap Syahrul.

Lebih dari itu, petani tetap menjalankan profesinya, bukan hanya untuk mempertahankan kebutuhan pangan mereka namun juga untuk menyanggah kebutuhan hidup manusia lainnya.

Apalagi dalam hal melawan virus corona, tubuh membutuhkan nutrisi untuk menghasilkan imunitas prima. Tentu salah satu penunjangnya ialah kebutuhan pangan terpenuhi.

Profesi petani berbeda dari yang lainnya. Penjualan dari hasil pertanian juga tidak bisa ditebak, karena mengikuti masa tanam dan masa panen sesuai jenis tanaman yang akan ditanam.

Seperti pada tanaman cabe, dengan satu musim tanam yakni Maret hingga Oktober 2020. Syahrul tidak pernah mengira bahwa harga cabe akan anjlok di harga Rp4.000 per kilogram, jauh dari harga normal yang berkisar Rp15 ribu-20 ribu per kilogram.

Ini lagi-lagi dampak dari pandemi COVID-19 yang kian menyebar di Sulawesi Selatan. Memukul telak sektor perekonomian, industri dan pariwisata, dan mengakibatkan permintaan cabe pun merosot.

Kebijakan pemerintah yang membatasi pergerakan pun menjadi alasan kuat penjualan di pasar kian menurun.

"Cabe rawit yang biasanya dijual dan dikirim ke luar Sulsel, kini setelah panen hanya dijual di Sulsel saja. Itu karena susah pengiriman," ujarnya.

Banyak petani seperti Syahrul yang turut merasakan dampak COVID-19, termasuk para petani kopi di Sulsel.

Ilustrasi. Petani kopi Rumbia, Kabupaten Jeneponto, Sulsel saat panen kopi. ANTARA Foto/HO-Dok.Pribadi
Harga kopi yang anjlok juga diungkapkan pendiri Kampung Kopi Bawakaraeng, Awaluddin, industri kopi yang mengkoordinir hasil panen dari 2.000 petani di lima kabupaten Sulsel yakni Bulukumba, Gowa, Sinjai, Bantaeng dan Bulukumba.

Sampai saat ini, kata dia, harga kopi tetap tidak mengalami perubahan sejak kemunculan COVID-19. Jika biasanya harga kopi di kisaran Rp60.000-68.000 per kilogram kini hanya dihargai antara Rp35.000-40.000 per kilogram.

Keterpurukan harga kopi yang tidak pernah pulih itu tidak menjadikan petani kopi beralih profesi, mereka tetap melakukan aktivitas bertani meski tentu dinilai tetap berpengaruh terhadap perekonomian dan kinerjanya.

"Hingga sekarang mereka tetap bertahan dan terus melakoni profesi bertani dengan harapan kondisi ini akan segera kembali normal. Apalagi mereka juga melihat bukan hanya komoditi kopi yang berdampak. Jadi bertahan saja," urai Awaluddin.

Upaya pemerintah

Pemerintah Sulawesi Selatan melalui Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holticultura tidak tinggal diam terhadap persoalan akibat pandemi dalam sektor pertanian.

Berkaitan dengan penanganan pemerintah selama pandemi, Dinas Pertanian Sulsel mendorong tiga hal utama dalam penyaluran bantuan bagi kelompok tani yakni tepat guna, tepat waktu dan pelaksanaan bantuan secara padat karya kemasyarakatan.

"Inilah yang bisa kami lakukan karena di Kementerian Pertanian tidak ada bantuan khusus selama pandemi. Makanya kami bergerak sesuai dengan RPJMD yang telah ditentukan sebelumnya," kata Kepala Dinas Pertanian Sulsel Andi Ardin Tjatjo.


Menurut Ardin, kunci terpenting dalam mengawal dampak pandemi bagi petani khususnya untuk bisa recovery quartal terakhir ialah semua sarana produksi tepat kena sasaran penerima manfaat, cepat bergerak dan bertindak tepat agar musim tanam telah tersedia sarana yang diperlukan.

"Kita menyiapkan benih, juga sarana lainnya seperti mobil traktor roda dua dan tiga untuk beraktivitas di lapangan serta mempercepat sarana produksi cepat sasaran," ujarnya.

Bukan itu saja, pemanfaatan jasa masyarakat untuk mendorong program padat karya dinilai menjadi salah satu cara memulihkan ekonomi. Pembangunan sarana dan prasarana pertanian dilakukan secara inklusif dengan melibatkan seluruh masyarakat.

Ardin menyebut langkah ini tidak hanya dilakukan pada 2020, tetapi juga dipersiapkan untuk pemulihan perekonomian lebih cepat di 2021. Melibatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan.

"Ini akan saya lakukan di 2021 untuk recovery lebih cepat. Sebagian besar bantuan ekonomi melalui dana pemerintah, jadi memang harus segera sampai ke lapangan sehingga perputaran dana pun lebih cepat dan lebih besar," ujarnya.

Dengan bantuan dana itu, masyarakat bisa berproduksi lalu melakukan ekspor yang jika ekspor tinggi maka neraca perdagangan akpun ikut tinggi, alhasil stabilitas rupiah akan terjamin.

Dinas Pertanian Sulsel terus berupaya agar Sulsel tetap menjadi penyanggah pangan nasional di tengah pandemi.

Caranya melalui pengaturan tanam kepada petani padi, jagung, kopi dan sebagainya. Itu pun ditopang dengan pendampingan tekhnis sehingga Sulsel tetap menjadi penghasil pertanian terbesar di luar pulau Jawa dan ke empat di Indonesia.