Jakarta (ANTARA) - Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Eko Yulianto mengatakan masyakarat harus mandiri melakukan mitigasi bencana karena tsunami di Indonesia lebih cepat ke daratan.

"Dari pelajaran gempa dan tsunami di Indonesia maka tsunami bisa sampai ke daratan sebelum Indonesia InaTEWS itu sampai ke masyarakat. Maka harus mandiri mitigasi. Kenapa? karena waktu datang tsunami setelah gempa itu sangat pendek jadi tidak bisa andalkan InaTEWS saja," kata Eko menjelaskan pentingnya mitigasi mandiri dan tidak hanya mengandalkan Indonesia Early Warning System (InaTEWS) saja dalam webinar yang diadakan Dongeng Geologi diakses dari Jakarta, Sabtu.

Baca juga: 16 Tahun Gempa Aceh, LIPI: Tsunami lebih kecil bisa saja terjadi

Gempa Padang tahun 2010 membuat aliran listrik padam dan sistem "backup" belum terlalu baik sehingga tidak mendukung sistem kerja peringatan dini. Pada menit ke-4 parameter gempa sudah dapat diumumkan namun tidak ada pernyataan tsunami, kata Eko.

Lalu pada menit ke-10 genset dapat dihidupkan sehingga aliran listrik kembali, dan di menit yang sama ia menyebut TVOne sudah menyiarkan peringatan dini gempa secara nasional tapi tetap tidak ada pemberitahuan soal tsunami.

Selanjutnya pada menit ke-25 sampai 30, menurut Eko, Wali Kota Padang juga hanya menyampaikan kejadian gempa saja, padahal masyarakat di Pagai Selatan sedang berjuang karena tsunami melanda di sana.

Baca juga: Doa bersama di kuburan massal korban tsunami Aceh terapkan prokes

"Sampai sekarang pun InaTews kita belum ada basis tsunami, hanya gempa saja. Parameter gempa yang jadi penanda. Maka pada kondisi demikian, karena selisih waktu gempa dan tsunami di Indonesia pendek, masyarakat perlu ada kemampuan melengkapi dirinya untuk menyelamatkan diri berbasis guncangan gempa," ujar Eko.

Selain itu, tidak pernah diketahui apakah gempa bisa merusak fasilitas peringatan dini atau tidak. Karenanya evakuasi mandiri harus menjadi ketrampilan wajib untuk semua masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang tidak hidup di pesisir pantai.

Eko juga meminta masyarakat berhati-hati dengan tsunami earthquake atau silent earthquake yang dipicu oleh gempa dengan frekuensi rendah sehingga guncangan lebih lemah daripada gempa pada umumnya, namun menyebabkan tsunami.

Baca juga: BMKG pastikan alat monitor gempa dan tsunami beroperasi baik

Karenanya, ia mengatakan masyarakat harus menguasai strategi evakuasi menghadapi tsunami, dengan mengabaikan harta dan mementingkan menyelamatkan diri terlebih dulu, berlari tanpa kendaraan karena ditakutkan memicu kemacetan, perlu waspadai sungai dan jembatan saat evakuasi karena itu dapat menjadi "jalan tol" air saat tsunami.

Selanjutnya, Eko mengatakan masyarakat juga perlu memperhatikan lokasi tinggi untuk evakuasi, mulai dari pohon, bangunan tinggi dan bukit. Lalu gunakan benda terapung saat tsunami sebagai pelampung.

Jika saat tsunami sedang berada di laut segera melaju ke arah laut karena gelombangnya akan lebih rendah dibanding di pesisir. Eko juga mengingatkan bahwa selalu ada lebih dari satu gelombang, karenanya masyarakat harus tetap waspada setelah gelombang pertama datang.

Baca juga: BMKG akan manfaatkan sirene tsunami dengan teknologi lebih sederhana