Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menyebut pertumbuhan pasar Bank Syariah Indonesia (BSI) hasil merger tiga bank syariah milik Himbara, akan melampaui bank konvensional karena didukung jangkauan cabang dan pegawai yang besar.

“Pertumbuhan DPK (dana pihak ketiga) dan aset syariah selama ini memang lebih tinggi dari bank konvensional,” kata Kartika Wirjoatmodjo usai penandatanganan akta penggabungan tiga bank syariah milik Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) di Jakarta, Rabu.

Tak hanya itu, lanjut dia dengan unggulan yang dibawa masing-masing bank induk yakni BRI dengan segmen mikro, BNI segmen konsumer dan Bank Mandiri segmentasi wholesale, akan mendorong kompetisi yang semakin lengkap.

Selain itu, didukung teknologi, SDM dan manajemen risiko diharapkan mendorong BSI menjadi bank kompetitif untuk meningkatkan peran ekonomi Islam dan produk halal.

“Bank Syariah Indonesia ini diharapkan secara skala akan mampu berperan secara signifikan dengan penggabungan ini memiliki aset Rp210 triliun,” katanya.

Menurut dia, kehadiran BSI diharapkan menjadi liaison yang menghubungkan dengan pasar global sukuk.

“Karena kita pahami Indonesia sebagai negara yang sangat membutuhkan pendanaan untuk pembangunan infrastruktur,” imbuhnya.

Selama ini, lanjut dia, Indonesia belum banyak menggunakan keuangan syariah untuk membangun infrastruktur misalnya dari sukuk di antaranya untuk pembiayaan tol dan pembangkit listrik.

Sementara itu, penandatanganan akta penggabungan tiga bank syariah milik Himbara ini akan menjadi langkah awal untuk merger yang legal dan sedianya akan berlaku Februari 2021.


Baca juga: Bank Syariah Indonesia siapkan rencana bisnis 2021-2023

Baca juga: Bank Syariah Indonesia bakal miliki aset Rp214,6 triliun

Baca juga: Bank syariah BUMN hasil merger akan bernama Bank Syariah Indonesia