Jakarta (ANTARA) - PT Mega Eltra, salah satu anggota holding PT Pupuk Indonesia (Persero) yang bergerak di bidang perdagangan, distribusi dan jasa konstruksi, resmi menjalin kerja sama pembelian produk Potassium Clorida (KCI) dengan Perusahaan asal Laos Sino-Agri Potash Co., Ltd.

Hal itu ditandai lewat penandatanganan Nota Kesepahaman Pembelian yang dilakukan secara virtual antara Direktur Utama PT Mega Eltra Hilman Taufik dengan Direktur Regional Sino-Agri Potash Co., Ltd Mr. Wu Hang, serta disaksikan oleh Duta Besar RI untuk Republik Demokratik Rakyat Laos Pratito Soeharyo, Wakil Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Nugroho Christijanto serta Komisaris Utama PT Mega Eltra Baran Wirawan.

Penandatanganan nota kesepahaman ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku berupa potassium di lingkungan Pupuk Indonesia Group.

"MoU ini merupakan langkah awal dalam peningkatan nilai dan optimalisasi kegiatan usaha PT Mega Eltra di penghujung tahun 2020, yang berbasis 'good corporate governance' dengan menjalin kerjasama dengan Sino-Agri," kata Direktur Utama PT Mega Eltra Hilman Taufik dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.

Baca juga: Pusri-Semen Baturaja kerja sama suplai bahan baku pupuk NPK

Menurut Hilman Taufik, Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki lahan pertanian cukup luas.

Salah satu komoditi unggulannya adalah perkebunan kelapa sawit, di mana Indonesia merupakan negara terbesar di dunia yang memproduksi CPO. Hal itu menjadi peluang PT Mega Eltra untuk dapat memasarkan KCl ke sektor perkebunan.

Wakil Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Nugroho Christijanto menambahkan pihaknya sangat menyambut baik kerja sama tersebut.

Menurut dia, upaya ini dapat memberikan jaminan bahan baku bagi Pupuk Indonesia Grup secara ekslusif agar tidak lagi mengalami kesulitan dalam hal pasokan bahan baku KCl bagi produk-produk Perseroan.

Baca juga: Sinergi BUMN, Pupuk Kaltim-Dahana bangun pabrik bahan peledak ammonium nitrat

"Dalam rangka transformasi bisnis, salah satu upaya kami ke depan adalah meningkatkan fokus pada pengembangan produk NPK. Oleh karena itu, jaminan pasokan bahan baku untuk produk ini sangat penting bagi keberhasilan pengembangan produk NPK ke depan," kata Nugroho.

Duta Besar RI Vientiane Pratito Soeharyo menyampaikan bahwa penandatanganan MoU ini merupakan komitmen peningkatan kerja sama bilateral antara Indonesia dengan Laos melalui diplomasi ekonomi.

Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, berupaya untuk mendekatkan perusahaan Indonesia dengan mitranya di pasar-pasar non tradisional.

"KBRI Vientiane akan terus mendukung upaya BUMN dan para pengusaha Indonesia dalam mengembangkan usaha ke pasar global, khususnya di wilayah Republik Demokratik Rakyat Laos," kata Dubes Pratito.