Jakarta (ANTARA) - Anak usaha PT Medco Energi Internasional Tbk, PT Medco Power Indonesia, terus berupaya mengembangkan pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT).

"Kita fokus Medco Power di clean energy, paling-paling yang fosil tinggal gas saja. Itu pun walaupun fosil tapi relatif bersih," ujar Presiden Direktur Medco Energi Hilmi Panigoro dalam Media Gathering secara daring, Selasa.

Menurut dia, EBT merupakan energi masa depan dan perseroan melakukan transisi energi melalui Medco Power.

"Saya sudah tahu, pada akhirnya energi yang sampai pada konsumen akan berupa listrik. Bagaimana generate listriknya, itulah yang menjadi tantangan kita. Harus make sure bauran renewable lebih besar, walau pun itu akan berjalan secara bertahap," katanya.

Baca juga: Medco siapkan anak usaha melepas sebagian saham lewat IPO

Sementara Medco Energi, kata dia, akan tetap fokus pada minyak dan gas meski sejumlah perusahaan besar mulai mengalihkan fokusnya dari fosil ke renewable. Perseroan tetap akan agresif untuk melakukan ekspansi baik akuisisi maupun eksplorasi.

"Indonesia ini unik. Indonesia masih tetap akan membutuhkan produksi minyak yang besar. Kita membutuhkan sekitar 1,6 juta barel minyak per hari, sedangkan produksi migas nasional hanya 700 ribu barel minyak per hari. Oleh karena itu peran perusahaan migas masih sangat diperlukan," kata Hilmi.

Dalam kesempatan sama, Direktur Utama Medco Power Eka Satria menargetkan kapasitas pembangkit EBT Medco Power bisa mencapai 5.000 MW dalam lima tahun ke depan.

Baca juga: Medco Energi komitmen dukung pemerintah jaga ketahanan energi

"Saat ini kita beroperasi lebih dari 20 lokasi di Indonesia," ucapnya.

Tahun ini, lanjut dia, Medco Power fokus untuk mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Terdapat tiga proyek PLTP, yakni Sarulla sebesar 330 MW, Riau (275 MW), Ijen Geothermal (2x55 MW).

Selain PLTP, perusahaan juga mengembangkan Solar Photovoltaic (PV), seperti di Bali dengan kapasitas 2x25 MW, dan Sumbawa (26 MW).

Baca juga: Medco Energi hadapi tantangan penurunan permintaan energi