Jakarta (ANTARA) - Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Dr dr Agus Dwi Susanto mengatakan bayi yang dilahirkan dengan antibodi COVID-19 di Singapura merupakan hal baru perlu dikaji lebih lanjut apakah diturunkan dari sang ibu.

“Itu hal baru juga. Bayi dengan antibodi COVID-19,” kata Agus menjawab pertanyaan salam Dialog Mewaspadai Efek Jangka Panjang COVID-19" yang diadakan di Media Center Gedung BPNB diakses di Jakarta, Kamis.

Sejauh ini, menurut Agus, memang belum ada bukti transmisi penularan virus corona tipe baru dari ibu hamil ke bayi yang dikandungnya lewat darah.

Namun demikian, ia mengatakan asam ribonukleat (RNA) virus jelas ada di dalam darah yang terinfeksi COVID-19. Sehingga ada potensi RNA itu bisa masuk ke bayi.

Baca juga: Antibodi COVID-19 ditemukan pada bayi baru lahir di Singapura

Baca juga: Ibu positif COVID-19 di Nagan Raya, bayi terpaksa minum ASI dari botol


“Meski beberapa bulan belum ada kasus seperti itu, sekarang ketemu. Jadi perlu kajian lebih lanjut bahwa antibodi turun dari ibu ke bayi,” ujar dia.

Dokter sedang mempelajari dampak COVID-19 pada wanita hamil dan bayi mereka yang belum lahir di Singapura, di mana bayi yang dilahirkan oleh ibu yang terinfeksi awal bulan ini memiliki antibodi terhadap virus tersebut tetapi tidak membawa penyakit tersebut, menurut Reuters.

Studi yang sedang berlangsung di antara rumah sakit umum negara menambah upaya internasional untuk lebih memahami apakah infeksi atau antibodi dapat ditransfer selama kehamilan, dan apakah antibodi menawarkan perisai yang efektif terhadap virus.

Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan meski beberapa wanita hamil memiliki peningkatan risiko terkena COVID-19 yang parah, belum diketahui apakah wanita hamil yang terinfeksi dapat menularkan virus ke janin atau bayinya selama kehamilan atau persalinan.*

Baca juga: Ibu hamil dan bayi harus dapat gizi seimbang dan ASI saat pandemi

Baca juga: IDAI catat 217 anak terinfeksi COVID-19 di Aceh