Jakarta (ANTARA) - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mengatakan telah menguji coba Sistem Informasi Desa di empat desa yang tersebar di empat kabupaten di Indonesia.

"Jadi SID ini sudah masuk pada tahap uji coba di empat desa, di empat kabupaten," kata Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar atau yang akrab disapa Gus Menteri melalui sambungan telepon dengan ANTARA di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan bahwa SID merupakan sebuah sistem informasi terpadu yang sedang dikembangkan Kemendes PDTT untuk memotret situasi desa secara tepat dan nyata sehingga kelak memudahkan intervensi kebijakan pemerintah terhadap permasalahan dan pengembangan desa.

Dengan adanya sistem informasi desa, pelaksanaan target dari tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) di desa (SDGs Desa) juga diharapkan dapat lebih mudah dicapai.

"Dengan SID, semua SDGs Desa akan ter-picture dengan pas posisinya di mana. Dengan itu maka kita bisa melihat kondisi desa dengan artian yang sebenarnya," kata Gus Menteri.

Pada tahap uji coba saat ini, Kemendes PDTT mencoba melakukan uji coba SID pada satu desa di setiap kabupaten. Sehingga dengan mengetahui kondisi dan permasalahan di salah satu desanya, pemerintah kabupaten/kota dapat mengambil langkah intervensi yang tepat untuk mengatasi permasalahan di desa tersebut.

Gus Menteri mengatakan secara umum kendala yang dihadapi dalam pengembangan sistem informasi desa adalah kendala teknis.

"Jadi kendalanya dalam uji coba ini bersifat teknis. Tetapi akan terus dilakukan pembenahan. Misalnya di dalam pengumpulan data, ada beberapa pertanyaan yang bisa diwakili oleh kepala keluarga dan ada yang tidak bisa. Saat anggota keluarganya tidak ada di rumah, maka pengambilan data harus dilakukan beberapa kali," katanya.

Kemudian, selain terkendala masalah teknis, pengumpulan data yang dilakukan dengan pendekatan populasi, bukan sampling, itu juga terkendala oleh keterbatasan sumber daya manusia (SDM).

"Tentunya ini terkait dengan kesiapan tenaga. Karena memang pilot project, jadi belum bisa sepenuhnya melibatkan masyarakat setempat. Dan konsepnya nanti seperti (perekrutan) Relawan Desa Lawan COVID-19. Jadi tim relawan desa adalah warga setempat," kata Gus Menteri.