Jakarta (ANTARA) - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan peluang industri migas di Tanah Air masih prospektif meski saat ini dunia tengah mengutamakan pemenuhan energi bersih dari energi baru dan terbarukan (EBT).

Menurut Arifin dalam gelaran 2020 International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas (IOG 2020) secara virtual, Rabu, Indonesia pun ikut serta dalam melakukan percepatan pengembangan energi bersih, namun tidak berarti sektor migas ditinggalkan.

"Meskipun secara prosentase bauran energi migas menurun, namun secara nominal justru meningkat. Peran subsektor migas tersebut, tidak hanya dalam pemenuhan kebutuhan energi untuk transportasi maupun kelistrikan, namun juga berperan sebagai bahan baku dalam dalam pengembangan industri," katanya.

Baca juga: Luhut: Petrokimia jadi solusi industri migas saat harga minyak turun

Arifin menuturkan berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), konsumsi minyak diperkirakan akan meningkat dari 1,66 juta bopd menjadi 3,97 juta bopd di tahun 2050 atau naik sebesar 139 persen.

Konsumsi gas meningkat lebih besar lagi, yakni dari 6 ribu MMSCFD menjadi 26 ribu MMSCFD pada tahun 2050 atau naik 298 persen.

"Untuk memenuhi kebutuhan energi tersebut, sesungguhnya potensi hulu migas Indonesia masih sangat besar, karena dari 128 cekungan migas yang dimiliki, baru 20 cekungan yang sudah berproduksi dan masih terdapat 68 cekungan yang belum dieksplorasi," imbuhnya.

Baca juga: Demi target 1 juta barel, pemerintah agresif kejar data hulu migas

Namun, Arifin juga mengakui industri migas punya tantangan tersendiri karena merupakan industri yang membutuhkan investasi yang besar, teknologi yang tinggi, dan tinggi risiko.