Jakarta (ANTARA) - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) mengatakan dengan pemanfaatan iradiasi gamma melalui Iradiator Gamma Merah Putih maka dapat mendorong produk Indonesia yang berdaya saing dan kompetitif.

"Pemanfaatan iradiator sudah semakin banyak diminati masyarakat dengan adanya pertambahan pelanggan dari tahun ke tahun," kata Kepala Loka Iradiator Gamma Merah Putih Indra Milyardi kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Iradiator Gamma Merah Putih (IGMP) diresmikan pada November 2017 yang berlokasi di kawasan Puspiptek Serpong Tangerang Selatan. Meski saat ini sedang pandemi COVID-19, fasilitas Iradiator Gamma Merah Putih tetap beroperasi sehingga dapat dimanfaatkan oleh para pengguna layanan jasa itu.

IGMP dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, di antaranya pengawetan bahan makanan dan kosmetik, dan sterilisasi alat kesehatan.

Indra menuturkan bahan pangan yang sudah diekspor dan telah memanfaatkan iradiasi gamma adalah cokelat bubuk yang diekspor ke China, teh ke negara di Timur Tengah, dan ikan asin ke Amerika.

Dengan memanfaatkan iradiasi gamma, maka produk pangan dapat bertahan lama tanpa merusak kualitas produk serta menghindari kontaminasi mikroba, seperti bakteri dan jamur, yang bisa menyebabkan kerusakan produk pangan dan pembusukan.

Baca juga: Batan: Manfaat teknologi iradiasi untuk pangan hingga alat kesehatan

Penggunaan iradiasi memiliki keunggulan, antara lain produk dapat diproses dalam keadaan telah dikemas dan siap dipasarkan serta dalam jumlah besar, target pemusnahan mikroba pada tingkat tertentu atau menyeluruh dapat dilakukan pada seluruh bagian produk.

Selain itu, proses iradiasi tidak menimbulkan kerusakan pada produk karena teknologi iradiasi merupakan proses dingin dan tidak menimbulkan residu bahan kimia.

Fasilitas iradiasi tersebut menggunakan sumber radiasi gamma untuk tujuan sterilisasi dan pengawetan. Proses iradiasi sinar gamma menjadi solusi terhadap berbagai masalah pascapanen secara selektif.

Indra mengatakan ke depan sosialisasi tentang pemanfaatan iradiator gamma semakin diperluas sehingga semakin banyak yang bisa mengetahui dan memanfaatkan untuk menjawab berbagai kebutuhan dalam meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia.

Menurut dia, pembangunan fasilitas iradiator gamma diperlukan di daerah-daerah, terutama yang memiliki potensi bahan baku seperti daerah penghasil cokelat bubuk dan cabai bubuk.

Selain untuk ekspor, pemanfaatan iradiasi bisa dimanfaatkan untuk produk pangan yang dipasarkan dalam negeri. Penggunaan iradiasi akan membuat produk pangan tetap awet tanpa menggunakan bahan pengawet kimia.

Baca juga: BATAN sterilisasi anti-serum untuk COVID-19 dengan iradiasi gamma
Baca juga: Bali segera wujudkan fasilitas teknologi pascapanen