Pekanbaru (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, berterima kasih kepada rakyat Provinsi Riau karena daerah berjuluk “Bumi Lancang Kuning” itu tidak mengalami bencana asap kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, pada tahun ini.

Siti Nurbaya terlihat berulang kali mengucapkan terima kasih dan syukurnya itu saat peresmian Kebun Bibit Desa (KBD) di Desa Muktisari Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, Jumat.

Menteri LHKi mengaku masih ingat kenangannya pada tahun 2015 mengunjungi Kabupaten Kampar, mendampingi Presiden Joko Widodo. Saat itu Riau dilanda bencana asap karena dipenuhi titik api Karhutla, yang menyebabkan masyarakat dikepung kabut asap. Perlahan tapi pasti dengan berbagai koreksi kebijakan dan aksi koreksi, lanjutnya, kejadian karhutla dapat ditekan.

"Tahun 2016 (perbaikan) mulai berjalan, 2017 karhutla mulai berkurang, 2018 juga turun. 2019 sempat banyak lagi, terlebih di Kalimantan. Alhamdulillah, saya bersyukur tahun 2020 Riau bebas asap. Dengan segala kerendahan hati, dihadapan Bapak/Ibu semua, saya ucapkan terimakasih rakyat Riau. Terimakasih atas kerja keras semuanya," katanya.

"Saya menyampaikan salam dari Bapak Presiden Joko Widodo. Beliau tiada henti menyayangi Provinsi Riau. Saya juga berterima kasih atas Visi Misi Gubernur yang sejalan dengan agenda Nasional. Kami akan selalu bersama rakyat Riau," lanjut Menteri Siti Nurbaya.

Baca juga: BPPT kembangkan TMC karhutla berbasis kecerdasan artifisial

Ia mengatakan selain pembangunan infrastruktur, pengendalian karhutla menjadi prioritas kerja pemerintah lainnya dengan mengedepankan kerja pencegahan dan tidak sekedar melakukan pemadaman. Telah dilakukan berbagai koreksi kebijakan mulai dari moratorium izin, perbaikan tata kelola gambut, penegakan hukum lingkungan, pemberian hak kelola perhutanan sosial, TORA, dan berbagai koreksi kebijakan fundamental lainnya.

Sebagaimana Inpres 3/2020, pengendalian karhutla dilakukan secara kolektif dari berbagai Kementerian/Lembaga, termasuk di dalamnya KLHK. Di tingkat kerja operasional, pengendalian karhutla melibatkan kerja bersama anggota brigade Manggala Agni KLHK, Pemadam Kebakaran (Damkar) Pemda, TNI, Polri, BNPB, BPBD, BPPT, BMKG, Swasta, dan berbagai elemen anak Bangsa lainnya.

Berkat kerja keras satgas karhutla dan upaya pencegahan melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang intensif dilakukan, Indonesia dapat menghindari bencana karhutla dan pandemi COVID-19 terjadi bersamaan.

Baca juga: Akademisi paparkan strategi tangani perkara karhutla

Sejak diaktifkan tanggal 11 Februari 2019, Pemprov Riau akhirnya mengakhiri status Siaga bencana karhutla 2020. Selama masa ini, Indeks Standard Pencemaran Udara (ISPU) di Riau juga tidak ada yang menunjukkan level berbahaya maupun yang tidak sehat.

Adapun perbandingan total jumlah titik api per tanggal 1 Januari-20 Oktober, berdasarkan Satelit Terra/Aqua (NASA), khusus untuk titik api di Riau pada periode tersebut di 2019 terdapat 3.032 titik, namun berkat dukungan dan kerja keras semua pihak, jumlahnya di 2020 dapat ditekan ke angka 327 titik.

Secara keseluruhan di Indonesia pada periode yang sama, hotspot menurun dari 25.453 titik ke 2.191 titik. Artinya terdapat penurunan jumlah hotspot sebanyak 23.261 titik atau 91,39 persen.

"Mari melangkah dalam derap langkah yang sama. Sebagaimana pesan Bapak Presiden, pembangunan kita harus sejalan dengan pemulihan lingkungan. Masalah lingkungan terjadi karena persoalan lama bertahun-tahun, dan sekarang kita benahi salah satunya melalui UU Cipta Kerja. Pelayanan untuk rakyat harus secepatnya, sederhana, tidak boleh ada transaksi suap, persoalan publik harus selesai dengan baik," demikian Siti Nurbaya.

Baca juga: Darurat karhutla di Riau berakhir, BNPB tarik empat helikopter