Jakarta (ANTARA) - Merebaknya wabah virus corona telah menyebabkan semua aktivitas kehidupan di dunia ini berubah drastis, termasuk perekonomian dan interaksi sosial.

Bermula dari Kota Wuhan di China pada akhir 2019, virus ini cepat sekali menjalar ke negara lain. Mobilitas orang dan barang antarnegara diidentifikasi menjadi media penyebarannya ke negara lain.

Tahun baru biasanya diwarnai gegap-gempita penyambutan dengan semaraknya aktivitas berbalut lampu-lampu pijar, petasan dan kembang api bersahutan. Tetapi tidak demikian saat menyambut tahun 2020.

Masyarakat dunia yang mulai dihantui kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan karena virus corona tipe baru (COVID-19) meniti awal tahun dengan lampu lebih redup, sedikit petasan dan kembang api. Apalagi hari demi hari kabar di media massa dan media sosial selalu saja ada informasi mengenai terus menyebarnya virus ini.

Semua itu bukan lagi menambah khawatir, cemas dan takut, tetapi juga panik. Sejumlah negara pun melakukan karantina wilayah.

Meski semula ada optimisme dari berbagai pihak bahwa virus ini tidak akan masuk Indonesia, namun keyakinan itu sirna. Indonesia akhirnya terkena juga, bahkan semakin hari semakin bisa dinyatakan tak ada negara yang bebas dari wabah ini.
Sejumlah anggota komunitas petani kota Gang Asmat, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, memanfaatkan pipa air bekas sebagai medium hidroponik, di Jakarta, Selasa (30/7/2019). DKI Jakarta memiliki potensi untuk pengembangan budidaya tanaman dengan sistem minim lahan atau hidroponik. ANTARA FOTO/Adnan Nanda/foc.
Berubah
Di Indonesia, awal penyebaran wabah ini diumumkan oleh pemerintah pada 2 Maret 2020. Sejak saat itu, seluruh aktivitas kehidupan berubah drastis.

Apalagi setiap hari jumlah orang yang terpapar virus ini terus bertambah. Hal itu semakin menambah cemas, takut dan panik.

Situasi dan kondisi seperti itu menyebabkan orang menahan diri atau mengurangi aktivitas karena takut keluar rumah. Hal itu mengakibatkan aktivitas ekonomi dan sosial mulai terguncang.

Apalagi pemerintah mulai melakukan pembatasan-pembatasan aktivitas publik dan mengurangi interaksi antarorang. Tujuannya untuk memutus rantai penyebaran virus corona.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mulai 10 April 2020. Setiap fase PSBB berlangsung dua pekan dan hingga 8 November masih memberlakukan kebijakan itu.

Kini telah sembilan bulan bangsa ini menjalani kehidupan di bawah kekhawatiran dan kecemasan akibat virus corona. Selama kurun waktu itulah, kehidupan dijalani dengan pembatasan-pembatasan.

Lantas, selama sembilan bulan "ngapain"? Apakah termenung saja meratapi keadaan sambil menunggu wabah virus corona berakhir?
Kelompok Tani Wanita (KTW) RW 05 Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, melakukan panen sayuran hasil budidaya secara hidroponik, Jumat (10/7/2020). (ANTARA/HO/Humas Pemkot Jakarta Utara)
Jenuh
Bagi warga DKI Jakarta yang bekerja di perkantoran telah merasakan harus lebih banyak beraktivitas di rumah. Bekerja dari rumah kini menjadi kebiasaan baru.

Bagi yang memperoleh dispensasi untuk bekerja di luar rumah--karena pekerjaannya menyangkut sektor esensial--tetap menghadapi pembatasan jumlah orang dalam satu area. Tentu saja wajib menerapkan protokol kesehatan, yakni menjaga jarak, sering cuci tangan dan selalu memakai masker.

Tak dapat dipungkiri bahwa selama berbulan-bulan menahan diri di rumah, rasa bosan dan jenuh mewarnai keseharian. Tak sedikit warga Jakarta yang kemudian mencari cara untuk menghilangkan rasa bosan dan jenuh itu.

Sebut saja, melakukan olahraga ringan di rumah hingga bersepeda mengitari kawasan-kawasan tertentu. Bahkan bersepeda kini menjadi tren baru di ibu kota.

Kegiatan lainnya juga banyak dilakukan di rumah di masa pandemi ini. Antara lain memelihara ayam khas bagi yang punya sedikit tempat atau memelihara burung.

Memelihara ikan hias juga menjadi kegemaran baru sebagian warga. Tak heran Pasar Urip di Jatinegara (Jakarta Timur) selalu ramai dikunjungi penggemar ikan hias.

Kegemaran menanam aneka bunga di dalam pot atau dekat teras dan halaman rumah juga menjadi tren di tengah pandemi. Dari bunga yang selama ini sudah dikenal luas hingga yang terbaru, "janda bolong".

Seorang pemasok bunga dari luar Jakarta kepada ANTARA mengaku mendapat banyak pesanan aneka bibit bunga dalam beberapa bulan terakhir. Setiap bulan dia rutin memasok aneka bibit bunga untuk warga Jakarta dan sekitarnya.
Anggota DPD RI Sylviana Murni bersama Sudin LH Jakarta Pusat memanen sayur hidroponik di RW 03 Cempaka Putih Timur, Kamis (28/5/2020). (ANTARA/HO/Kominfotik Jakarta Pusat)
Tanaman Pangan
Dalam perkembangan kekinian, kegemaran sebagian warga ibu kota menanam tanaman bukan sebatas aneka bunga, tetapi telah meningkat ke tanaman pangan, khususnya sayuran. Selain di dalam pot atau di halaman yang luasnya sangat terbatas, penanaman dilakukan dengan mengandalkan pipa paralon dan air.

Cara bertanam seperti ini dikenal dengan sebutan hidroponik. Dari rangkaian pipa dilubangi kemudian disambung dan panjangnya sesuai lokasi yang tersedia, setiap bulan warga bisa menghasilkan aneka sayuran bahan pangan untuk kebutuhan rumah tangga sendiri.

Kalau hasilnya banyak bisa berbagi ke tetangga dan kerabat. Atau dijual ke warung sayuran dan supermarket.

Kemampuan menghasilkan bahan pangan sendiri akan mampu mengurangi keinginan keluar rumah untuk ke pasar atau supermarket. Tentu saja hemat dan hasil pangan sendiri lebih menyehatkan karena organik (tanpa pupuk kimia).

Sebut saja, Pak Abdulrachman (58) telah cukup lama menanam beraneka sayuran di atas rumahnya di Cipete. Cara serupa juga dilakukan Bagyo, warga lainnya.

Selain dibudidaya dalam lingkup keluarga, tren hidroponik di Jakarta dilakukan secara berkelompok; ibu-ibu maupun pemuda. Mereka dibina oleh pihak kelurahan setempat maupun dinas terkait.

Pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Kelurahan Manggarai Selatan, Jakarta Selatan, telah panen aneka sayuran hasil budidaya secara hidroponik.

Sedangkan Karang Taruna Kelurahan Kebon Baru (Jakarta Selatan) lebih maju lagi. Produk sayuran organik yang dibudidaya dengan cara hidroponik telah masuk pasar modern.

Produk pertanian yang dihasilkan berupa aneka sayuran organik berwarna kehijauan seperti selada, pakcoy, bayam dan kangkung. Aneka sayuran itu dibudidayakan di lahan sangat terbatas.
Warga merawat sayuran yang ditanam menggunakan metode hidroponik di atap rumahnya di Ciledug, Kota Tangerang, Banten, Selasa (13/10/2020). Warga tersebut memanfaatkan atap rumahnya untuk budi daya sayuran hidroponik guna menambah pendapatan dan tetap produktif di masa pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Fauzan/hp.

Supermarket
Produknya ada di Gelael Tebet dengan merek dagang "New Garden Hydro". Tim "New Garden Hydro" dapat memanen 10-15 kilogram (kg) sayuran tiap panen.

Lurah Kebon Baru Fadhila Nursehati mengatakan, keberhasilan produk pertanian Karang Taruna menembus pasar modern ini diharapkan bisa menjadi cikal bakal ketahanan pangan dan ekonomi bagi warga setempat.

Apalagi saat masa pandemi seperti ini diharapkan bisa membantu warga yang terdampak ekonominya.

Baca juga: Tanah kosong milik Pemkot Jakpus direncanakan jadi pertanian perkotaan

Untuk meningkatkan kualitas produk sayuran organik, penyuluh pertanian dari Suku Dinas Ketahanan pangan, Kelautan dan Pertanian (Sudin KPKP) Kecamatan Tebet terus mendampingi tim "New Garden Hydro" dari Karang Taruna Kebon Baru.

Kegiatan Karang Taruna Kelurahan Kebon Baru ini juga diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi para pemuda dan warga lainnya untuk dapat produktif walaupun dalam kondisi keterbatasan lahan dan masa PSBB Transisi.
Pemuda Karang Taruna Manggarai Selatan memanen sayuran hidroponik perdana lewat program pertanian perkotaan, Senin (10/8/2020). (ANTARA/HO-Kominfotik Jakarta Selatan)
Komunitas
Ibu-ibu atau emak-emak di Petukangan Selatan, Pesanggrahan, juga tak mau kalah dalam mengisi hari-harinya di tengah pandemi. Daripada termenung meratapi virus corona, mereka membentuk komunitas lalu membuat instalasi hidroponik di pagar rumah.

Sejumlah emak-emak RW 05 Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, juga berhimpun membentuk Kelompok Tani Wanita (KTW). Hasilnya, mereka melakukan panen sayuran hasil budidaya secara hidroponik pada Jumat (10/7/2020).

Baca juga: Sayuran super mini solusi pertanian perkotaan

Namun tidak semua produk pangan yang dihasilkan sebagian warga Jakarta merupakan produk hidroponik. Tak sedikit yang membudidayakan tanaman pangan di lahan kosong atau halaman yang sangat terbatas, atap rumah maupun gang permukiman.

Kelompok Wanita Tani (KWT) Hijau Daun RW 09 Kelurahan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara, misalnya, memanfaatkan kolong jalan tol untuk budidaya pertanian dan perikanan.

Beragam jenis sayuran kehijauan ditanam seperti terong, sawi, kangkung, pare, bayam merah dan bayam hijau. Emak-emak di KWT ini memilih menanam sayuran karena hanya butuh satu bulan untuk bisa dipanen.

Menurut Ketua KWT Hijau Daun, Thelda Pangandaheng, KWT ini memiliki 20 anggota yang memanfaatkan lahan seluas 500 meter persegi.

Selain untuk pertanian, lahan seluas itu juga dimanfaatkan untuk budidaya lele dan magot. Dengan demikian, hasilnya selain sayuran juga ikan.

"Selama pandemi virus corona, ketahanan pangan keluarga harus tetap terjaga," ujar Thelda.
Petani kota Abdulrahman (58) melakukan perawatan tanamannya di kebun di atas rumahnya, di kawasan Cipete, Jakarta, Kamis (14/11/2019). Konsep pertanian perkotaan atau "urban farming" menjadi solusi masyarakat Jakarta untuk bercocok tanam atau berkebun di tengah-tengah tingginya harga lahan di Ibu Kota. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/ama
Kreativitas
Tanaman yang tumbuh dengan daun-daun segar kehijauan dan gemercik air dirasa menjadikan hati serta pikiran siapapun yang gemar bercocok tanam lebih tenang dan senang. Itu menjadi hiburan untuk mengobati kegelisahan, kecemasan dan kerisauan akibat wabah virus corona.

Krisis seringkali menumbuhkan kreativitas tanpa batas. Kreativitas itu--bahkan--tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Baca juga: Cara Jakarta memenuhi kebutuhan sayuran

Wabah ini menggugah banyak orang di ibu kota untuk menekuni aktivitas yang semula tidak terbayangkan akan menjadi tren. Juga gaya hidup baru, yakni mengonsumsi bahan pangan yang lebih sehat dari sekitar rumah sendiri.

Kreativitas itupun seiring dan sejalan dengan program pemerintah, yakni Kampung Tangguh. Program ini menjadi benteng menghadapi wabah global COVID-19, khususnya dari sisi kecukupan dan ketahanan pangan berbasis kearifan lokal, yaitu gotong-royong.

Program Kampung Tangguh juga menjadi salah satu bagian dari "Laporan Tahunan 2020-Bangkit Untuk Indonesia Maju". Laporan dalam bentuk buku tersebut terbit 20 Oktober lalu dalam rangka setahun Pemerintahan Presiden Joko Widodo-Wapres Ma'ruf Amin.

Pandemi ini, menurut laporan itu, memperkokoh semangat gotong-royong untuk hadapi COVID-19. Melestarikan kearifan lokal dalam menjalani kehidupan new normal untuk memutus mata rantai COVID-19.

Melalui konsep Kampung Tangguh, masyarakat berinisiatif mengatasi masalah secara mandiri. Menguatkan silaturahmi untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari.

Mulai dari ruang isolasi, posko kesehatan, dapur umum, hingga lumbung pangan dapat dimanfaatkan secara bersama. Pemenuhan kebutuhan tersebut membentuk karakter baru yang patuh protokol kesehatan.