Surabaya (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat Jawa Timur untuk mewaspadai bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor saat musim hujan.

"Diharapkan masyarakat agar tetap waspada dan siap siaga menghadapi potensi bencana seiring adanya peringatan dini dari BMKG," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Raditya Jati, dalam siaran pers yang diterima ANTARA di Surabaya, Senin sore.

Baca juga: BMKG Juanda: Puluhan kabupaten/kota di Jatim berpotensi angin kencang

Baca juga: Antisipasi La Nina, Kepala BNPB sebut perlu mitigasi nonstruktural


Ia menyampaikan berdasarkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui laman "bmkg.go.id", diberikan peringatan dini cuaca buruk, khususnya di wilayah Jawa Timur.

Prakiraan cuaca untuk Senin (2/11), kata dia, BMKG mengimbau agar waspada terhadap hujan intensitas sedang hingga deras disertai angin kencang sesaat pada pagi hari di wilayah Trenggalek, Kabupaten Malang dan Lumajang.

Sedangkan, siang hingga sore hari di wilayah Kabupaten Madiun, Ngawi, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Kabupaten Blitar, Kota Blitar, Kabupaten Kediri, Kota Kediri, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Jember, dan Bondowoso.

Kemudian, lanjut dia, pada Selasa (3/11), BMKG juga memberikan peringatan dini waspada hujan dengan intensitas sedang hingga deras disertai angin kencang sesaat pada pagi hari di wilayah Lumajang. Sedangkan pada siang hingga sore hari di wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Lumajang, dan Jember.

Sementara itu, sebelumnya Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa juga meminta warganya waspada terhadap ancaman bencana hidrometeorologi menjelang puncak musim hujan pada November 2020 hingga Maret 2021.

Ia mengumumkan terdapat 22 kabupaten/kota yang berstatus rawan bencana hidrometeorologi.

Orang nomor satu di Pemprov Jatim tersebut menginstruksikan instansi bidang kebencanaan, yakni BMKG, BPBD, Dishub, PU Cipta Karya, Binamarga, dan Dinas Sosial untuk mendetailkan mitigasi menyusul adanya potensi bencana akibat La Nina.

Gubernur Khofifah mengemukakan seluruh instansi terkait kebencanaan harus melakukan antisipasi bersama yang harus segera dibuat item yang lebih terukur, mulai dari hulu hingga hilir.

Baca juga: BMKG: Waspadai La Nina dapat picu bencana hidrometeorologi

Baca juga: Presiden Jokowi minta waspadai peningkatan curah hujan bulanan


"Kalau bisa mendetailkan koordinasi secara operasional akan bagus dalam menangani kesiapsiagaan bencana. Kami tidak ingin terlambat merespons fenomena La Nina," tuturnya.