Jakarta (ANTARA News) - Menteri Perindustrian MS Hidayat mempersilahkan para pelaku industri pelayaran dan kalangan lainnya memberi masukan pada pemerintah terkait upaya memajukan industri pelayaran nasional dan penerapan asas `cabotage` di Indonesia.

Kepada pers usai membuka acara INCAFO (Indonesian Cabotage Advocation Forum) 2010 di Jakarta, Rabu, Hidayat mengatakan pemerintah membuka pintu seluas-luasnya bagi berbagai kalangan, seperti akademisi dan para pelaku industri pelayaran, memberikan masukan terkait optimalisasi pemberdayaan industri perkapalan nasional.

"Forum-forum seperti ini (INCAFO 2010) bisa membuat usulan-usulan kepada pemerintah dan selanjutnya kami yang akan memperjuangkan," ujar Hidayat yang juga mantan Ketua KADIN itu.

Ia menjelaskan, berbagai usulan itu bisa berupa insentif-insentif dari pemerintah yang memang dibutuhkan kalangan industri pelayaran maupun dukungan perbankan yang mampu mendorong perkembangan industri itu.

Hidayat memandang sektor industri pelayaran nasional ini juga mampu bangkit dari terpaan krisis ekonomi global beberapa waktu lalu. "Sektor ini sudah recovery," tegasnya seraya menggambarkan pertambahan jumlah kapal-kapal berbendera "merah putih" yang pesat dalam kurun waktu lima tahun terakhir atau sejak Indonesia mengadopsi asas `cabotage`

`Cabotage` merupakan asas pemberian hak untuk beroperasi secara komersial di dalam suatu negara hanya kepada perusahaan angkutan domestik negara itu sendiri secara eksklusif.

Banyak negara telah menerapkan asas tersebut untuk melindungi industri pelayaran dalam negeri masing-masing. Pelaksanaan asas `cabotage` di Indonesia berlandaskan pada Inpres No 5/2005 tentang Pemberdayaan Industri Pelayaran Nasional.

Data statistik menunjukkan bahwa dalam satu tahun terdapat sekitar 118 juta perjalanan antargugus kepulauan di Indonesia. Selain itu berdasarkan hasil survey dan tujuan tahun 2006 memperlihatkan tidak kurang dari 882 juta ton barang berpindah antarpulau setiap tahunnya.

Sementara itu pada acara yang digagas Ikatan Alumni (Iluni) Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FT UI) bersama sejumlah mitranya seperti INSA dan IPERINDO, Rektor UI Prof Gumilar Rusliwa Somantri mengatakan bahwa komitmen masyarakat Indonesia terhadap maritim masih rendah.

"Sangat disayangkan bahwa optimalisasi sumber daya kelautan masih jauh dari orientasi bangsa Indonesia saat ini," ujarnya.

Oleh karena itu, katanya, UI berupaya mengubah cara pandang masyarakat tersebut dari semula lebih berorientasi ke daratan menjadi orientasi maritim. Di masa-masa mendatang, Indonesia harus lebih fokus dalam mengeksplorasi berbagai potensi kelautan, apalagi Indonesia termasuk sebagai negara maritim.

Hal senada juga ditegaskan Wakil Ketua Iluni FTUI Agus Muldya Natakusumah. Menurut dia, saat ini merupakan momentum kebangkitan maritim Indonesia.

"Tidak hanya kebangkitan untuk industri pelayaran nasional yang mencakup galangan atau kapal-kapalnya, tetapi semua aspek yang terkait dengan kelautan harus dibangkitkan dan diberdayakan," ujarnya.

(T.D011/S004/R009)