London (ANTARA News) - Meskipun sudah bermetamorfosa hampir dua dasawarsa, sebagian masyarakat Indonesia memiliki kesan bahwa Rusia adalah Uni Soviet.

Buku "Vodka, Cinta dan Bunga: Rusia Kontemporer" goresan M. Aji Surya dan Khoirul Rosyadi bertutur tentang Rusia baru yang eksotik, patriotik dan penuh kejutan dengan bahasa yang enak dikunyah.

Bedah buku "Vodka, Cinta dan Bunga: Rusia Kontemporer" yang dilaksanakan di LKBN ANTARA berlangsung meriah dan dihadiri tidak saja kalangan umum dan media masa, tetapi juga beberapa anggota DPR.

Dirut LKBN ANTARA, Dr. Ahmad Mukhlis menyambut hangat buku-buku baru yang mencerahkan. Adapun pembahas buku ini adalah dua akademisi kawakan, Prof. Dr. Davidescu SP Cristiana Victoria Marta dari Unpad dan Prof. Dr. Jeffry Alkatiri dari Universitas Indonesia.

Sang penulis, M. Aji Surya, diplomat tamatan Pesantren Gontor mengakui bahwa bukunya ini bukanlah telaah ilmiah, melainkan rangkaian tulisan yang bersifat pengamatan selama satu tahun di Rusia.

Dikatakannya bahwa sejak kedatangannya hingga saat ini, dirinya selalu saja dikejutkan dengan hal-hal eksotik yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Rusia kini, adalah sebuah planet baru yang berkembang pesat dengan segala dinamikanya yang luar biasa.

Pengalamannya selalu membuat mulutnya berkata "wow" setiap hari. Perubahan besar dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya yang terjadi pada negeri besar seperti Rusia memang menciptakan banyak keunikan.

Proses menuju titik yang diidealkan harus dilalui dengan masa transisi yang memunculkan decak kagum oleh siapapun. Rusia kini sudah demokratis, terbuka dan menganut pasar bebas serta berbagai budayanya yang tidak banyak diperbincangkan. "Saya terus terang terkena virus "wow" selama di Rusia," akunya.

Prof. Cristina memberikan apresiasi sangat tinggi atas terbitnya buku ini karena akan membukakan mata banyak orang bahwa Rusia kontemporer memiliki kekuatan yang layak diperhitungkan.

Dengan bahasa yang mudah dicerna dalam aneka cerita yang dialami oleh dua penulis, buku ini akan memberikan kontribusi bagi pemahaman akan Rusia baru. "Vodka, Cinta dan Bunga adalah tiga simbol yang sangat tepat bagi Rusia. Jangan salah, vodka adalah simbol persahabatan dan keakraban," ujarnya.

Sementara itu, Prof. Jeffry Alkatiri mencatat, tulisan berbentuk features bersubstansi semacam buku ini baru ada ada lima buah di Indonesia yang utamanya dibuat oleh para jurnalis.

Terbitan pertamanya pada kisaran tahun 1950an dan yang paling gres ya Vodka, Cinta dan Bunga. Buku ini muncul di tengah-tengah sedikitnya karya-karya tulisan tentang Rusia kontemporer.

Kekuatan buku ini, kata Jeffry, karena kedua penulis bisa masuk pada komunitas-komunitas tertentu yang tidak sulit ditembus oleh penulis sebelumnya.

Selain itu, banyak hal-hal yang kelihatannya sepele berhasil dikupas secara relatif dalam dengan bahasa yang renyah. "Sangat menarik bagaimana penulis memaparkan misalnya tentang Islam, natal di Rusia hingga pemakaman pada musim salju. Ini tentu barang baru," ujarnya.

Dalam diskusi selama dua jam lebih itu, masalah patriotisme dan nasionalisme Rusia mendapatkan sorotan. Disebutkan, meskipun mengalami jatuh bangun sejak zaman Tsar hingga saat ini, masyarakat di sana tidak pernah melepaskan kebanggaannya sebagai bangsa besar bernama Rusia.

Berbekal ini pula, mereka selalu bisa bangun, bangkit dan menjadi besar lagi. Sebuah tauladan yang baik bagi negeri manapun juga.

Pada akhir pertemuan, M. Aji Surya mengingatkan bahwa bukunya tidak dimaksudkan menjadi arah baru bagi siapapun yang ingin mengetahui Rusia hari ini. Sebab memahami Rusia yang begitu besar dan kompleks tidaklah mudah.

"Membuat benang merah dari buku ini hanyalah membuat noktah kecil dalam lembaran besar sebuah negeri: Rusia. Setitik air di tengah lautan luas," katanya merendah.
(ZG/B010)