Jakarta (ANTARA) - Badan Keamanan Laut (Bakamla) akan melakukan operasi cegah tangkal untuk mengantisipasi penyebaran COvid-19 di pulau-pulau terpencil.

Kepala Bakamla Laksdya TNI Aan Kurnia mengatakan hal itu saat menemui Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang juga selaku Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Letnan Jenderal TNI Doni Monardo, di kantor BNPB, Jakarta Timur, Selasa.

Dalam pertemuan tersebut Kepala Bakamla RI menyampaikan perkembangan operasi cegah tangkal yang menurut rencana akan dilepas pada Jumat (4/9) di Dermaga Jakarta Internasional Container Terminal (JICT) 2 Pelabuhan Tanjung Priok.

Operasi tersebut, kata Aan, akan dibagi menjadi tiga zona operasi, yakni Zona Barat, Zona Tengah dan Zona Timur. Di setiap zona akan terdapat tiga titik lokasi yang akan disambangi dan wilayah yang menjadi operasi cegah tangkal adalah pulau-pulau terpencil yang memang belum tersentuh pengecekan COVID-19.

Aan juga menyampaikan perkembangan kesiapan bantuan sosial (Bansos) dari Kementerian Sosial yang akan disalurkan kepada masyarakat.

Baca juga: Bakamla ZMTh gelar pengibaran merah putih di Kapal KN Gajah Laut

Baca juga: Bakamla soroti perkembangan situasi keamanan Laut Natuna Utara dan LCS
"Bansos berupa sembako akan dibagikan kepada lansia ataupun masyarakat yang memang belum mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah," katanya dalam keterangan tertulisnya.

Selain dalam bentuk Bansos, operasi cegah tangkal juga melaksanakan pengecekan COVID-19 dukungan dari BNPB yakni dengan metode Swab Antigen. Metode ini memiliki akurasi lebih baik dibandingkan tes cepat antibodi.

Salah satu dokter BNPB dr. Riswandi dalam pertemuan tersebut, menyebutkan, tes cepat antigen lebih akurat dibandingkan tes cepat antibodi untuk deteksi virus Corona.

"Rapid test antigen bahkan diproyeksikan akan menggantikan rapid test antibodi. Kedua rapid test sama-sama menghasilkan hasil yang cepat dalam waktu kurang lebih 30 menit. Perbedaannya, rapid tes antigen mendeteksi keberadaan virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19, bukan mendeteksi antibodi tubuh terhadap penyakit COVID-19. Oleh karena itu rapid tes antigen lebih akurat dibandingkan rapid tes antibodi," paparnya.

Rapid tes antigen tetap membutuhkan metode swab dari hidung atau tenggorokan untuk mengambil sampel Antigen yang dikeluarkan oleh virus, termasuk COVID-19.

"Yang diambil adalah swab hidung atau tenggorokan dan ini dimasukkan ke dalam alat dan melihat reaksi antigen COVID-19. Jadi virus-nya yang dideteksi adalah bagian luar virus," tutur Riswandi.

Pada kesempatan tersebut, Deputi Operasi dan Latihan Laksda Bakamla TSNB Hutabarat berkesempatan untuk mencoba rapid tes antigen.

Tidak kurang dari 15 menit hasilnya pun langsung terlihat dan dinyatakan negatif COVID-19.

Turut mendampingi Kepala Bakamla RI, yakni Deputi Operasi dan Latihan Laksda Bakamla TSNB Hutabarat dan Direktur Operasi Laut Laksma Bakamla Suwito.

Baca juga: Syarief Hasan: Perkuat Bakamla jaga laut Indonesia

Baca juga: Bakamla: Tata kelola keamanan laut di Indonesia belum optimal