Jakarta (ANTARA) - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meluncurkan Taman Sains Pertanian (TSP) Jeruk di Balai Penelitan Tanaman Jeruk dan Tanaman Subtropika untuk mendukung kegiatan pelatihan dan pemagangan hingga kerja sama bisnis untuk komoditas tanaman jeruk dan subtropis.

Saat mengunjungi Kota Baru, Jawa Timur, Mentan berharap Taman Sains Pertanian ini dapat mendukung kegiatan perbenihan, "on farm", hingga pascapanen untuk menjawab potensi sektor pertanian.

"Pertanian menjadi sesuatu yang dibutuhkan. Industri juga butuh pertanian dalam negeri. Oleh karena itu, mari kita siapkan," kata Mentan melalui keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat.

Adapun kegiatan perbenihan di TSP Jeruk ini didukung dengan inovasi teknologi produksi jeruk bebas penyakit yang dikembangkan di Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Punten dan IP2TP Tlekung Batu Jawa Timur, screen house (shade house) dan laboratorium.

Kegiatan "on farm" yang dikembangkan TSP antara lain mencakup teknologi jeruk sitara, bujangseta dan organik. Sementara kegiatan pascapanen yang dikembangkan yaitu unit pengemasan, serta hilirisasi aneka produk olahan jeruk pangan dan non pangan.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Litbang Pertanian Fadjry Jufry mengungkapkan bahwa terdapat sinergi yang terintegrasi dari penelitian, produksi sampai dengan pascapanen komoditas tanaman jeruk dan subtropika.

"Areal taman sains terintegrasi dan banyak produk yang kita hasilakan, dan kita berkomitmen untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan harus bisa diterima di masyarakat. Beberapa produk kita hilirisasi dan kita lekatkan dengan KUR dan BUMN," kata Fadjry.

Kepala Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) Kementan Harwanto menjelaskan produk unggulan TSP Jeruk di perbenihan yaitu benih sumber jeruk bebas penyakit sebanyak 39 ribu yang sudah beredar di 26 provinsi.

Kemudian, benih sebar jeruk sebanyak 15 juta di 30 provinsi yang setara dengan 39 ribu ha atau 69 persen dari total luas area panen jeruk nasional. TSP Jeruk Balitjestro menjadi rujukan utama pengembangan jeruk nasional.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II 2020 minus 5,3 persen. Namun, di saat sektor lainnya merosot, sektor pertanian masih mencatatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang positif.

PDB dari sektor pertanian terhitung naik 2,19 persen pada kuartal II-2020. Selama pandemi COVID-19 atau Januari-Mei 2020, permintaan ekspor buah segar meningkat cukup besar hingga mencapai 375,04 ribu tonn.

Volume ini meningkat sebesar 31,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019 dan nilai tambah ekspor meningkat 73,40 persen dibanding periode yang sama tahun 2019 (sebesar 191,23 juta dolar AS).


Baca juga: Balitbangtan siapkan teknologi dongkrak produksi dan kualitas jeruk RI

Baca juga: Marmalade, inovasi Balitbangtan bikin kulit jeruk nikmat disantap

Baca juga: Teknologi degreening Balitbangtan jaga rasa dan tampilan jeruk keprok