Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Program kemitraan petani dengan PT Pupuk Kaltim berhasil meningkatkan produksi pertanian di Kabupaten Jember hingga hasil panennya mencapai 10,7 ton per hektare.

"Kemitraan adalah kekuatan seperti kemitraan di pertanian yang mampu meningkatkan hasil panen hingga 10,7 ton dari biasanya sebesar 5- 6 ton per hektare," kata Bupati Jember Faida, usai menghadiri panen raya padi dalam program kemitraan pertanian terpadu yang digelar oleh Asosiasi Distributor Pupuk Kaltim di Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, Rabu.

Baca juga: Pupuk Kaltim paparkan ketersediaan stok pupuk subsidi sesuai E-RDKK

Menurut Faida, kemitraan tersebut adalah wujud dari kegotongroyongan karena tanahnya tidak bisa ditambah, tapi produktifitasnya bisa ditingkatkan, sehingga untuk mencapai sukses di bidang pertanian perlu bermitra dengan banyak pihak.

"Hasil produktivitas yang tinggi diharapkan juga mampu memperbaiki hulu dan hilir pertanian di Kabupaten Jember," ucap bupati perempuan pertama di Jember itu.

Sementara General Manager Pupuk Kaltim Yusri mengatakan program kemitraan pertanian terpadu itu merupakan salah satu program agrosolution untuk mendukung pupuk pertahanan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Baca juga: KPK konfirmasi Bakir Pasaman soal kerja sama pengangkutan amoniak

"Pupuk Kaltim berupaya untuk mendorong dan meningkatkan produktivitas pertanian, dan membantu kendala yang dihadapi petani selama dilakukan pendampingan," tuturnya.

Menurutnya petani dikawal dari awal sampai akhir, serta menggandeng stakeholder terkait untuk mendukung petani misalnya petani kekurangan dana, maka akan melibatkan pengusaha dan akan ada opteker (penyedia barang) yang akan mengambil hasil panen petani.

Baca juga: Anak usaha Pupuk Indonesia, Pupuk Kaltim dongkrak daya saing lewat IT

Petani yang melakukan panen raya dalam program kemitraan, Supriyoto mengatakan kemitraan pertanian terpadu mendapat respon positif dari petani karena kemitraan itu menggabungkan semua pilar untuk memuliakan petani.

"Pilar pertama agro input, dua modal, dan tiga opteker, sehingga petani tinggal kerja dan hasilnya dapat optimal karena ada kenaikan 3 ton per hektare yang meningkatkan produktivitas dan menambah pendapatan petani," ujarnya.