Jakarta (ANTARA) - Dua mantan pegawai Twitter mengatakan lebih dari seribu pegawai dan kontraktor di perusahaan itu punya akses ke perangkat internal yang bisa mengubah pengaturan akun.

Menurut laporan Reuters mengutip sumber yang tidak disebutkan identitasnya tersebut, jumlah ribuan pegawai berdasarkan pengamatan pada awal tahun ini, termasuk kontraktor bernama Cognizant.

Twitter dan FBI sedang menyelidiki kasus peretasan yang baru-baru ini terjadi, peretas bisa mengambil alih akun-akun resmi seperti kandidat presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat Joe Biden, pendiri Microsoft Bill Gates, CEO Tesla Elon Musk dan mantan wali kota New York Mike Bloomberg.

Baca juga: Peretas Twittter ambil data delapan akun, targetkan tokoh ternama

Baca juga: Twitter tunda peluncuran perangkat lunak API setelah peretasan


Twitter menyatakan peretas memanipulasi sejumlah kecil pegawai mereka dan menggunakan identitas mereka untuk masuk ke sistem dan mengambil alih 45 akun. Peretas juga diperkirakan membaca pesan di Direct Mesage miliki 36 akun, namun, tidak disebutkan siapa.

Twitter menolak mengungkapkan soal ribuan pegawai yang punya akses ke sistem internal, atau menginformasikan apakah jumlah tersebut turun sebelum atau setelah kasus peretasan.

Tapi, mantan pegawai mengatakan Twitter sudah lebih baik dalam hal aktivitas masuk ke sistem setelah tersandung kasus-kasus sebelumnya, termasuk soal pencarian catatan dari seorang pegawai yang dituduh mata-mata untuk pemerintah Arab Saudi pada November tahun lalu.

CEO Twitter, Jack Dorsey pada pertemuan perusahaan pada Kamis (23/7) waktu setempat, mengakui kekeliruan mereka, baik dalam hal melindungi pegawai dari social engineering maupun proteksi untuk perangkat internal mereka.

Baca juga: Peretas Twitter baca "DM" 36 akun, termasuk akun pejabat

Baca juga: Coinbase hentikan 1.100 transaksi bitcoin saat peretasan Twitter

Baca juga: Peretas Twitter ternyata sekelompok anak muda