Jakarta (ANTARA) - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian melakukan teknik penyambungan untuk perbanyakan benih jantan dan benih betina pala untuk mendukung program kebangkitan kejayaan rempah Indonesia.

Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry di Jakarta, Jumat, mengatakan penyediaan benih pala yang telah diketahui jenis kelaminnya merupakan salah satu langkah awal untuk mendukung program Kebangkitan Kembali Kejayaan Rempah Indonesia, karena produktivitas pala akan meningkat.

"Indonesia merupakan produsen pala terbesar di dunia. Salah satu permasalahan pada budidaya pala adalah belum adanya teknologi yang dapat mengidentifikasi jenis kelamin tanaman pada fase benih secara akurat," katanya.

Akibatnya, lanjutnya, pada waktu penanaman, posisi dan komposisi tanaman jantan dan betina tidak bisa ditentukan secara tepat sehingga kemungkinan terjadinya kelebihan tanaman jantan atau hermaprodit sangat besar dan posisinya berjauhan sehingga tanaman betina tidak berproduksi secara optimal.

Menurut Fadjry, hal tersebut akan merugikan petani karena produktivitas per hektare (ha) menjadi rendah. Rata-rata produktivitas pala nasional saat ini hanya 0,46 ton/ha, sedangkan potensi varietas pala yang sudah dilepas sebesar 3,75 ton/ha.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro) di bawah koordinasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Perkebunan (Puslitbangbun), melakukan perbanyakan benih dengan cara penyambungan antara benih pala yang tidak diketahui jenis kelaminnya dengan batang atas (entres) dari cabang tanaman dewasa yang telah diketahui jenis kelaminnya.

Peneliti Balittro Agus Ruhnaya mengatakan sumber entres bisa menggunakan varietas pala yang sudah dilepas Kementerian Pertanian, yaitu Tobelo 1, Tidore 1, Ternate 1, Banda, Makian, Nurpakuan Agribun, Tiangau Agribun dan Tomandin.

Berdasarkan umur batang bawah, tambahnya, terdapat tiga cara penyambungan, yaitu penyambungan di atas kotiledon, di atas daun dewasa, dan pada pucuk cabang.

Menurut dia, pertumbuhan benih pala hasil penyambungan di atas daun dewasa lebih cepat dibandingkan dengan penyambungan di atas kotiledon karena menggunakan batang bawah yang lebih tua yang perakarannya sudah berkembang.

"Saat ini yang direkomendasikan untuk dikembangkan adalah cara pertama dan kedua. Sementara cara ketiga masih dalam tahap penelitian pendahuluan," katanya.

Baca juga: Karantina Pertanian Manado fumigasi bunga pala ekspor ke India
Baca juga: Mentan apresiasi Sulut ekspor pala di tengah pandemi COVID-19
Baca juga: Mesin penyimpan inovasi Balitbangtan jadikan cabai tahan 30 hari