Jakarta (ANTARA) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menyatakan rencana operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) di Kalimantan dalam tahap pembahasan dalam mengantisipasi puncak musim kemarau untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan.

"BPPT siap, tinggal menunggu pendanaan yang sedang dibahas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)," kata Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto ​​​​​kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.

Seto menuturkan puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada akhir Agustus - September 2020, sehingga operasi TMC sebaiknya mulai dilakukan sebelum masuk puncak musim kemarau.

"Jika sudah ada anggaran maka BPPT siap dalam waktu maksimal satu minggu," tutur Seto.
Baca juga: KLHK lakukan modifikasi cuaca cegah karhutla
Baca juga: BPPT akan buat hujan buatan di Sumatera-Kalimantan cegah Karhutla


Seto menuturkan satu sorti penerbangan dengan pesawat CASA 212 hanya mampu membawa bahan semai sebanyak 800 kg sampai 1 ton. Sedangkan dengan pesawat CN295, bahan semai bisa dibawa sampai 2,4 ton.

Menurut Seto, operasi TMC ke depan untuk antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat dilakukan dalam jangka waktu sekitar 1-2 bulan.

Seto mengatakan meskipun sampai saat ini belum banyak terjadi kebakaran, yang salah satunya juga karena pengaruh TMC sebelumnya untuk di wilayah Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi, namun Indonesia harus bersiap untuk melaksanakan TMC saat ini agar dalam memasuki puncak musim hujan nanti masih terdapat cadangan air di hutan dan lahan gambut sehingga karhutla bisa lebih dicegah.

Seto menuturkan daerah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah perlu dilakukan operasi TMC.
Baca juga: Menteri LHK: TMC berlanjut hingga September untuk cegah karhutla