Jakarta (ANTARA) - Jumlah kasus positif terpapar Corona Virus Desease 2019 (COVID-19) di DKI Jakarta pada Senin sebanyak 279, turun drastis dibanding Ahad (12/7) yang mencapai 404 dan Sabtu (11/7) 359 kasus baru.

Dengan pertambahan sebanyak 279 kasus baru, jumlah korban virus dari Wuhan (China) itu sudah lebih 14 ribu kasus. Untuk pasien sembuh bertambah 208 orang dan korban meninggal naik delapan orang.

Berdasarkan data Pemprov DKI Jakarta, untuk kasus positif COVID-19 per hari Senin berjumlah 14.640 kasus dan pasien sembuh COVID-19 tercatat 9.408 orang. Adapun yang meninggal dunia ada 710 orang.

Sebanyak 597 pasien masih menjalani perawatan di rumah sakit dan 3.925 orang melakukan isolasi mandiri (self isolation) di rumah.

"Untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP) berjumlah 397 orang dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 821 orang," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta
Dwi Oktavia.

Baca juga: Penambahan kasus COVID-19 di DKI Jakarta tertinggi
Baca juga: Bangkitnya kasus COVID-19 Jakarta karena pemahaman keliru normal baru
Warga RW 07 Jembatan Besi, Tambora, menjalani tes usap COVID-19 di Jakarta, Kamis (14/5/2020). (ANTARA/HO-Dokumentasi Kecamatan Tambora)
Dinas Kesehatan DKI Jakarta juga menyatakan sampai 12 Juli 2020 sudah ada 399.249 sampel yang telah diperiksa dengan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mengetahui jejak COVID-19 di lima wilayah DKI Jakarta.

Untuk tes PCR pada 12 Juli 2020 dilakukan pada 3.429 orang. Sebanyak 2.893 tes dilakukan untuk menegakkan diagnosis pada kasus baru (yang awalnya terdeteksi pada hasil reaktif pengujian rapid test) dengan hasil 279 positif dan 2.614 negatif.

Untuk "testing rate" pada pemeriksaan PCR di Jakarta yang dilakukan sejak 1 Maret 2020, adalah 26.632 tes per 1 juta penduduk. Dalam periode seminggu terakhir, yaitu 6-12 Juli 2020, telah dilakukan 3.569 tes per 1 juta penduduk per minggu.

Jumlah ini telah melebihi target WHO 1.000 tes per 1 juta penduduk per minggu. Namun "positivity rate" tes PCR seminggu terakhir, yaitu 5,5 persen.

Menurut WHO, "positive rate" idealnya berkisar kurang dari 5 persen. Untuk itu, perlu kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dalam memutus mata rantai penularan COVID-19.