Bangkok (ANTARA) - Thailand pada Senin, memerintahkan peningkatan keamanan di perbatasan darat setelah kekhawatiran akan kemungkinan gelombang kedua infeksi virus corona, menyusul penangkapan ribuan migran ilegal dalam sebulan terakhir.

Sejak awal Juni, pihak berwenang telah menangkap 3.000 pekerja migran yang berupaya masuk melalui darat, kata Taweesin Wisanuyothin, juru bicara satuan tugas Thailand untuk penyakit ini.

Taweesin juga menyuarakan keprihatinan tentang regulasi lemah untuk kedatangan asing melalui udara, setelah dua pengunjung melalui udara dinyatakan positif, dengan satu melanggar aturan karantina.

Pemerintah mengidentifikasi seorang awak pesawat militer Mesir berusia 43 tahun dan seorang bocah perempuan berusia sembilan tahun dalam keluarga seorang diplomat Sudan sebagai kasus baru yang berpotensi memicu gelombang kedua.

"Ini memperlihatkan kelemahan, tetapi belum ada dampak jika kita dapat mengendalikan dan memperbaiki kelemahan ini dan mengeluarkan peraturan yang lebih menyeluruh," kata Taweesin.

Dengan tidak adanya laporan kasus yang ditransmisikan secara lokal selama lebih dari enam minggu, penghitungan total kasus virus di Thailand sejak Januari mencapai 3.220 infeksi dan 58 kematian.

Awak udara dan keluarga diplomat asing adalah di antara beberapa kelompok orang asing yang diizinkan masuk ke negara itu sejak Maret, dengan syarat menghabiskan 14 hari di karantina.

Warga negara Mesir itu tiba pada Rabu dan menghabiskan waktu di Provinsi Rayong sebelum pergi pada Sabtu. Setelah tes virus kembali positif pada Minggu, pihak berwenang menemukan dia telah meninggalkan hotel tempat dia seharusnya menjalani isolasi.

Bocah perempuan Sudan itu dirawat di rumah sakit pada saat kedatangan di Thailand, tetapi keluarganya diizinkan untuk melakukan karantina sendiri di kondominium Bangkok tanpa pengawasan resmi. Tidak ada laporan bahwa keluarga itu telah meninggalkan kediaman mereka.

Meskipun Thailand telah sebagian mencabut larangan masuknya orang asing, termasuk penduduk tetap, pelancong bisnis dan wisatawan medis, negara itu masih melarang turis biasa dan pekerja migran.

Sumber: Reuters

Baca juga: Vietnam setuju buka kembali penerbangan komersial ke China

Baca juga: Filipina laporkan 162 kematian COVID-19, angka tertinggi harian