Jakarta (ANTARA) - Staf Khusus (Stafsus) Menteri BUMN Arya Sinulingga menilai wajar jika saat ini isu pergantian komisaris atau direksi di perusahaan negara menjadi perhatian publik.

"Kita tahu ekonomi Indonesia hampir 50 persen diputar oleh BUMN, melihat kapitalisasinya, makanya wajar ketika semuanya beralih pandang ke BUMN," ujar Arya Sinulingga di Jakarta, Selasa.

Ia mengatakan perhatian publik terhadap BUMN juga tidak terlepas dari kontribusinya terhadap layanan publik sehingga kadang memicu pro dan kontra.

"BUMN menyangkut banyak kepentingan publik dan keuntungan sehingga mata selalu akan melihat ke arah itu. Itu normal saja. Wajar kalau pengamat banyak yang berkoar," ucapnya.

Baca juga: Menteri Erick: Pemilihan direksi BUMN berdasarkan kebutuhan

Dalam menentukan suatu jabatan di BUMN, Arya mengatakan prosesnya dilakukan melalui pembuatan talent pool (sekelompok orang bertalenta unggul) sebagai wadah untuk mencari sosok yang mumpuni.

"Kita ada Deputi SDM, mereka kelola talent pool, nanti diajukan ke masing-masing Wamen (Wakil Menteri). Nanti dilihat, kalau perusahaan strategis, sampai ke Presiden pemilihannya seperti Pertamina, PLN, perbankan," papar Arya.

Baca juga: Erick Thohir ungkap alasan Nicke Widyawati jadi Dirut Pertamina lagi

Ia menyampaikan proses seleksi komisaris dan direksi melalui talent pool sudah dilakukan sejak era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Arya menambahkan proses seleksi jabatan penting di BUMN juga akan semakin terbuka bagi sosok dari luar lingkungan BUMN.

"Ke depannya, akan semakin terbuka dari luar, jadi kesempatan untuk dapatkan putera-puteri bangsa semakin terbuka lebar," ucapnya.

Baca juga: Kementerian BUMN: Pemilihan komisaris dan direksi lewat "talent pool"