Jakarta (ANTARA) - PT Geo Dipa Energi (Persero) berencana akan menambah kapasitas pembangkit listrik panas bumi (PLTP) hingga 110 MW untuk pengembangan proyek PLTP Dieng Unit 2 dan Patuha Unit 2 masing-masing sebesar 55 MW.

Direktur Utama PT Geo Dipa Riki Firmandha Ibrahim mengatakan proyek yang aktivitas fisiknya dimulai pada 2020 hingga 2023 itu telah disiapkan sejak Kuartal II-2019 baik dari sisi pendanaan, perencanaan proyek, maupun pembuatan dokumen pengadaan.

“Proyek ini berperan untuk mendukung pemerintah dalam menarik investasi swasta di sektor ini dengan mengurangi risiko di tahap awal pengembangan proyek,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Riki menuturkan proyek itu merupakan proyek strategis nasional yang menyediakan listrik ramah lingkungan dalam jaringan Jawa Bali karena akan mengurangi tingkat emisi CO2 lebih dari 700 ribu ton per tahun jika dibandingkan pembangkit listrik dari energi fosil.

“Proyek ini juga dapat mengurangi impor minyak setara dengan 35 juta Bbl BBM untuk 25 tahun,” ujarnya.

Riki mengatakan pihaknya juga akan menyediakan dukungan langsung bagi komunitas di sekitar lokasi proyek termasuk perempuan dan kelompok rentan lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan penghidupan mereka.

Spesialis Senior untuk Energi di Departemen Asia Tenggara ADB Shannon Cowlin memastikan bahwa proyek ini akan membantu pemulihan ekonomi di Indonesia melalui energi yang ramah lingkungan, berkelanjutan, dan bertahan.

“Proyek ini akan menciptakan lapangan kerja bagi para pemasok barang dan jasa di industri panas bumi, minyak, serta gas,” katanya.

Direktur ADB untuk Indonesia Winfried F. Wicklein menyatakan proyek tersebut akan membantu Indonesia memerangi perubahan iklim dan menjadikan sistem kelistrikan yang berkelanjutan, andal, dan efisien.

Tak hanya itu, Winfried menuturkan pengembangan proyek akan turut mendorong peningkatan dunia usaha dan konsumen dalam mengakses energi yang terjangkau, andal, dan modern.

Winfried menyatakan pihaknya telah menyetujui pinjaman terkait pengembangan proyek ini sebesar 300 juta dolar AS serta melakukan pengelolaan pinjaman dari Clean Technology Fund (CTF) sebesar 35 juta dolar AS pada 28 Mei 2020.

Pinjaman antara ADB dan GeoDipa yang merupakan pinjaman B to B atau direct lending itu akan ditandatangani pada Juni 2020.

“Bantuan kami sejalan dengan sasaran jangka panjang Indonesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dan energi yang memaksimalkan sumber daya energi dalam negeri, menambah bauran energi dan memastikan keberlanjutan lingkungan,” jelasnya.

Baca juga: Badan Geologi-GeoDipa sepakati penelitian Panas Bumi
Baca juga: Geodipa lakukan groundbreaking PLTP Unit 2 Dieng dan Patuha