Jakarta (ANTARA) - Azerbaijan menjadi negara republik demokratis pertama di dunia Muslim Timur 102 tahun yang lalu dan tiap tanggal 28 Mei bangsa Azerbaijan merayakan Hari Republik sejak 1990.

Presiden Ilham Aliyev telah menandatangani sebuah dekrit mengenai perayaan ulang tahun ke-100 Republik Demokrasi Azerbaijan. Dalam dekrit tersebut dinyatakan bahwa 28 Mei 2018 merupakan ulang tahun ke-100 Republik Demokrasi Azerbaijan.

Kemerdekaan Azerbaijan dan republik-republik lain di Kaukasia terjadi setelah berakhirnya Perang Dunia I dan akibat situasi politik yang melemahkan Kekaisaran Rusia.

Setelah jatuhnya Kekaisaran Rusia selama PD I, Azerbaijan bersama Armenia dan Georgia menjadi bagian Republik Federasi Demokrasi Transkaukasia yang berumur pendek. Saat republik itu bubar pada Mei 1918, Azerbaijan menyatakan kemerdekaan sebagai Republik Demokrasi Azerbaijan.

RDA ialah negara republik berpenduduk mayoritas Muslim pertama di dunia dan hanya berlangsung dua tahun, dari 1918 hingga 1920, sebelum Tentara Merah menyerang Azerbaijan. Pada Maret 1922, Azerbaijan, bersama dengan Armenia dan Georgia, menjadi bagian dalam Uni Soviet yang baru terbentuk.

Pada 1990, orang Azeri berkumpul untuk memprotes kekuasaan Soviet dan menuntut kemerdekaan. Secara brutal demonstrasi itu ditindas oleh campur tangan Soviet dalam peristiwa yang kini disebut orang Azeri sebagai Januari Hitam. Pada 1991, Azerbaijan memproklamasikan kemerdekaannya saat jatuhnya Uni Soviet.

Indonesia mengakui kemerdekaan Azerbaijan pada 28 Desember 1991, hanya 71 hari setelah Azerbaijan merdeka untuk kedua kali setelah runtuhnya Uni Soviet.

Sayangnya, tahun-tahun awal kemerdekaannya teralihkan dengan perang melawan Armenia dan gerakan separatis Armenia atas kawasan Nagorno-Karabakh. Meski ada gencatan senjata di tempat sejak 1994, Azerbaijan belum memecahkan konflik dengan Armenia atas wilayah yang dominannya orang Armenia. Sejak akhir perang, Azerbaijan kehilangan kendali 14 – 16 persen wilayahnya termasuk Nagorno-Karabakh sendiri. Sebagai akibat konflik, kedua negara menghadapi masalah pengungsi dan orang telantar seperti kesulitan ekonomi.

Heydər Aliyev muncul sebagai pemimpin nasional dan memajukan Azerbaijan dengan mulai mengeksploitasi cadangan minyaknya yang kaya di Baku, sesuatu yang membuat Azerbaijan terkenal. Sebelum wafat Heydar Aliyev memilih putranya Ilham Aliyev menyandang jabatan presiden hingga kini.

Kedutaan Besar Azerbaijan di Jakarta pada awal Mei mengadakan acara untuk memperingati ulang tahun ke-97 Haydar Aliyev, yang lahir pada 10 Mei 1923 di Nakhchivan. Dubes Jalal Mirzayev berbicara mengenai apa yang pemimpin nasional itu lakukan bagi rakyat Azerbaijan selama masa kepemimpinannya.



Hubungan bilateral



Bagi banyak orang Indonesia, Azerbaijan masih terlihat seperti sebuah negara baru. Tapi hubungan keduanya sudah hampir tiga dekade. Jika ingin dilacak lebih jauh, salah satu penyebar agama Islam dan ulama Maulana Malik Ibrahim berasal dari Azerbaijan, yang kemudian datang ke Indonesia 600 tahun lalu.

Dua negara besar dengan penduduk mayoritas Islam tersebut sedang merayakan hari peringatan ke-28 atas terbentuknya hubungan diplomatik antar kedua negara. Hubungan ini --- yang terbentuk pada tanggal 24 September 1992 --- telah tumbuh "dengan sangat cepat dan dinamis" selama 28 tahun terakhir.

Azerbaijan dan Indonesia mungkin terlihat jauh secara geografis namun di dalam hati mereka sangat dekat karena berbagai alasan.

Pertama, mayoritas warga dari kedua negara menganut versi Islam moderat dan toleran. Kedua negara adalah anggota aktif dari Organisasi Kerjasama Islam (OKI), yang menjadi wakil bagi 2 milyar orang Muslim.

Kedua, demokrasi, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan politk kedua negara.

Indonesia, rumah bagi populasi Muslim terbesar di dunia, saat ini merupakan negara demokrasi terbesar kedua di Asia setelah India. Indonesia juga merupakan pemimpin de facto dari Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) yang sudah berusia lebih lima dekade.

Dengan dibukanya Kedutaan Besar Azerbaijan di Jakarta pada 12 Februari 2006, sebuah babak baru dibuka dalam sejarah hubungan kedua negara. Dalam waktu singkat, ikatan ekonomi telah berkembang dengan pesat.

Kedua negara sejauh ini telah menandatangani sekitar 12 kesepakatan dan nota kesepahaman untuk meningkatkan kerja sama bilateral.

Pemerintah Azerbaijan terus melakukan reformasi dalam skala besar di semua bidang. Pembangunan ekonomi Azerbaijan yang cepat telah mengubah negara itu. Dalam sedikitnya 15 tahun terakhir, tingkat kemiskinan di negara itu turun jadi 5,4 persen. Ekonominya tumbuh tiga kali lipat, dan dana senilai 260 miliar dolar AS sudah diinvestasikan di negara itu.

Dengan jumlah penduduk yang mencapai 10 juta pada 6 April 2019, cadangan devisanya menyentuh angka 46 miliar dolar, lima kali lebih tinggi daripada hutang luar negerinya.

Azerbaijan, sebuah negara yang kaya akan minyak di Kaukasus Selatan, telah muncul sebagai salah satu pemasok utama minyak mentah ke Indonesia setelah Arab Saudi selama 13 tahun terakhir.

Sejak 2012 hingga 2019, hasil kumulatif perdagangan bilateral mencapai hamper 9 miliar dolar AS, termasuk rekor tertinggi perdagangan bilateral di tahun 2014 senilai 2,42 miliar dolar, dengan Indonesia sebagai pengimpor minyak mentah, bahan kimia, produk makanan, logam besi dan logam non-ferrous dari Azerbaijan, dan juga pengekspor minyak sawit, kopi, kertas, tekstil karet dan kerajinan tangan ke Baku.

Azerbaijan telah muncul sebagai mitra dagang terbesar kedua di Indonesia di antara Persemakmuran Negara-Negara Merdeka (CIS) setelah Rusia.

Tapi perdagangan bilateral yang mengesankan ini tidak mencerminkan potensi ekonomi Indonesia dan Azerbaijan yang sebenarnya. Kedua negara harus bekerja keras untuk memanfaatkan potensi yang sangat besar ini agar dapat saling menguntungkan di masa depan.

Indonesia, anggota G20 dengan ekonomi senilai lebih dari 1 triliun dolar dan 273.05 juta penduduk, juga menyadari kepentingan strategis Azerbaijan dan membuka kedutaan besarnya di Baku pada 2 Desember 2010.

Kini kedua negara telah fokus untuk memperluas bidang kerja sama ekonomi baru. Azerbaijan ingin menginvestasikan sebagian dari kekayaan minyaknya di sektor energi, pertambangan, infrastruktur dan manufaktur Indonesia yang menjanjikan.

Indonesia juga berusaha mengubah Baku sebagai pintu gerbang negara-negara CIS untuk produk utamanya. Indonesia juga berusaha untuk menarik wisatawan Azerbaijan ke Indonesia.

Hubungan politik

Azerbaijan dan Indonesia memiliki pandangan politik yang sama mengenai banyak isu internasional seperti pluralisme, terorisme, demokrasi, perdamaian dan toleransi. Selain aktif di OKI, kedua negara menjalin kontak-kontak diplomatik di PBB dan Gerakan Non-Blok.

Secara bilateral, kedua pemimpin negara tersebut memiliki hubungan yang baik dan secara teratur bertemu di sela-sela acara internasional. Beberapa kunjungan tingkat tinggi dari kedua negara telah berlangsung dalam dekade terakhir.

Azerbaijan selalu berterima kasih kepada Indonesia atas dukungan terus-menerusnya terhadap masalah integritas teritorial Azerbaijan, terutama terkait masalah kedudukan ilegal Armenia di wilayah Azerbaijan yang disebut Nagorno-Karabakh.

Indonesia bersama dengan negara-negara anggota OKI lainnya mengecam keras agresi Armenia tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa juga mengecam agresi Armenia dan mengeluarkan empat resolusi, yang menuntut penarikan segera pasukan Armenia dari wilayah Azerbaijan.

Kedua negara telah menyadari potensi yang sangat besar di banyak sektor. Terlepas dari hubungan baik ini, ada satu hal yang kurang. Anehnya, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev belum pernah berkunjung ke Indonesia dan presiden Indonesia Joko Widodo juga tidak pernah mengunjungi Azerbaijan.

Dubes Mirzayev mengatakan baru-baru ini bahwa Presiden Azerbaijan akan mengunjungi Indonesia sebelum akhir tahun ini.

Kunjungan bersejarah presiden Azerbaijan ke Indonesia akan mengubah dinamika hubungan kedua negara dan akan memberikan arah untuk hubungannya di masa depan yang akan datang. Kedua belah pihak percaya bahwa hubungan bilateral saat ini pasti akan mencapai tingkat strategis yang baru.

*Muhammad Anthoni adalah mantan redaktur senior ANTARA

Baca juga: Potensi ekonomi RI-Azerbaijan lebih besar
Baca juga: Presiden Azerbaijan berencana kunjungi Indonesia tahun ini