Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Bambang PS Brodjonegoro mengatakan perangkat uji diagnostik COVID-19 berbasis molekuler Reverse Transcription Loop-Mediated Isothermal Amplification (RT-LAMP) direncanakan mulai produksi Juli 2020.

"RT-LAMP rencananya Juli 2020 dua bulan lagi dari sekarang mudah-mudahan sudah bisa mulai diproduksi," kata Menristek Bambang dalam konferensi pers, di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Optimalisasi teknologi digital dukung hidup "new normal"

RT LAMP ini menggunakan reagen yang berbeda dengan yang digunakan pada uji PCR, sehingga tidak berebutan reagen untuk uji deteksi COVID-19.

Dengan perangkat RT-LAMP maka, diperkirakan hasil tes swab dari sampel diambil dapat diperoleh dalam satu jam.

Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Laksana Tri Handoko mengatakan karena RT-LAMP berbasis molekuler, maka diharapkan tingkat akurasinya setara dengan PCR.

"Tetapi kelebihannya dia (RT-LAMP) tidak membutuhkan alat RT-PCR," ujarnya.

Pengujian dengan RT-LAMP bisa dilakukan di berbagai tempat di rumah sakit dengan fasilitas jauh lebih sederhana dan tidak perlu ada fasilitas biosafety level.

Sementara itu, Konsorsium COVID-19 juga telah mengembangkan perangkat uji PCR untuk deteksi COVID-19. Saat ini telah diproduksi sebanyak 250 unit di dalam 10 boks. Perangkat ini sedang dalam tahap uji validasi di Kementerian Kesehatan.

***3***

Baca juga: Menristek luncurkan produk COVID-19, LaNyalla: Pantau sebarannya
Baca juga: Alat rapid test COVID-19 masih uji validasi di Jawa Tengah
Baca juga: Menristek dorong riset kehidupan normal baru