Jakarta (ANTARA News) - Peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992, Alan Budikusuma, berpendapat pembinaan terhadap altlet bulutangkis di Indonesia perlu terobosan baru karena sudah tertinggal dari negara lain.

"Penurunan prestasi belakangan ini merupakan tanda bahwa pembinaan para atlet harus segera ditingkatkan," kata Alan di Jakarta, Rabu.

Menurut Alan, sistem pembinaan dan pelatihan yang dinilai baik pada waktu yang lalu belum tentu baik pula untuk diterapkan pada saat ini.

"PR (pekerjaan rumah) untuk PBSI untuk mencari apa lagi kekurangannya karena menurut saya teknik permainan para atlet juga relatif sama dengan atlet dari negara lain," kata Alan.

Dari sisi mental pemain, kata mantan pebulutangkis nasional itu, pelatih harus lebih berperan aktif untuk mengurangi ketegangan dan beban pemain sebelum bertanding.

"Harus lebih disampaikan ke atlet agar tidak menjadikan pertandingan sebagai beban melainkan menjadi sebuah tantangan," katanya.

Ketegangan para pemain itu disebabkan oleh beban dan harapan untuk berprestasi.

"Pelatih dan PBSI berharap mereka dapat berprestasi dengan baik. Belum lagi kalau mereka main di Indonesia atau menjadi wakil Indonesia, beban menjadi bertambah," kata pendiri perusahaan Astec itu.

Untuk meringankan ketegangan atlet, Alan menyarankan para atlet diberi kesempatan lebih banyak lagi untuk mengikuti pertandingan.

"Salah satunya dengan menimba pengalaman bertanding. Bagaimanapun juga pengalaman memang yang terbaik. Jam terbang itu mutlak dimiliki oleh seorang atlet. Pengalaman bertanding tidak bisa didapatkan hanya melalui teori," kata suami Susy Susanti itu.
(*)