Jakarta (ANTARA) - Pandemi COVID-19 yang mengakibatkan semakin terhambatnya pertumbuhan sektor properti yang selama beberapa tahun belakangan ini telah stagnan membuat pengembang perlu memberikan insentif yang lebih menarik bagi pembeli properti baru di sektor perumahan.

"Berikan insentif yang menarik kepada pemilik rumah pertama," kata Senior Director Office Services Colliers International Indonesia (konsultan properti), Bagus Adikusumo, dalam paparan properti virtual di Jakarta, Rabu.

Menurut Bagus, insentif tersebut dapat berupa antara lain dengan mengurangi uang muka yang harus disetorkan atau dengan memperpanjang cicilan yang harus dilunasi oleh pihak pembeli.

Ia berpendapat bahwa saat ini sebenarnya banyak mereka yang belum memiliki rumah tertarik untuk membeli properti tetapi karena kondisi finansial belum memungkinkan mereka untuk mendorong melakukan pembelian itu.

Bagus juga mengungkapkan bahwa dalam kondisi stagnan seperti ini, sebenarnya masih ada pengembang yang terus mencari tanah karena mereka perlu memiliki lahan agar bisnis properti mereka juga dapat berkembang ke depannya.

"Developer harus mengembangkan produk properti yang unik yang sesuai dengan kondisi ekonomi. Developer mesti fokus ke rumah," katanya.

Sementara itu, Senior Associate Director Colliers International Indonesia, Ferry Salanto menyatakan bahwa awalnya diproyeksikan kinerja properti bakal mencapai titik terendahnya pada tahun 2020 ini.

Namun, lanjut Ferry, karena ada pandemi yang telah mengglobal ini, maka kemungkinan proyeksi itu dapat diperpanjang hingga tahun 2021 karena pemulihan kinerja properti membutuhkan waktu yang lama.

Menurut dia, beberapa sektor properti yang ke depannya masih memiliki prospek yang cukup baik antara lain adalah residensial atau perumahan, terutama untuk proyek rumah tapak untuk kelas menengah ke bawah.

Ia menyadari bahwa Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan sehingga berpotensi meringankan bunga cicilan KPR ke depannya, tetapi saat ini warga dinilai masih memiliki prioritas lain yang lebih mendesak dibandingkan membeli rumah.

"Jadi dalam kondisi sekarang sulit. Kalau wabah tertangani, ekonomi bergerak, maka properti juga akan bergerak," ucapnya.

Sebelumnya, Dirjen Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Khalawi Abdul Hamid menginginkan agar Aliansi Pengembang Perumahan Nasional (Appernas) Jaya dapat terus membantu membangkitkan pasar properti di Republik Indonesia.

Apalagi, ujar Khalawi, pemerintah memiliki Program Sejuta Rumah yaitu program kolaborasi pembangunan perumahan dari seluruh mitra kerja bidang perumahan.

Khalawi menjelaskan, pemerintah akan terus berupaya menjaga stabilitas pasar properti meskipun muncul wabah penyakit corona. Untuk itu, pemerintah telah menganggarkan sejumlah subsidi perumahan dengan menambah kuota subsidi.